Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Guru Sebagai Agen Perubahan

Catatan yang tertinggal:

Guru Sebagai Agen Perubahan di Sekolah

Trulli

P ada hari Selasa, tanggal 26 Januari 2021, Sekolah dalam lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep kembali melaksanakan PTM atau Pembelajaran Tatap Muka. Sejak memasuki awal tahun 2021 karena pandemi covid-19 masih berlangsung, rencana PTM kembali tertunda dari rencana awal yang seharusnya masuk tahapan new normal, menjadi kembali melaksanakan PJJ atau Pembelajaran Jarak Jauh.

Kembalinya sekolah melaksanakan PTM ini meninggalkan banyak perubahan, baik siswa, guru dan masyarakat khususnya orang tua siswa. Fenomena ini nampak terlihat ketika awal masuk sekolah, banyak diantaranya guru dan siswa yang kehilangan gairah atau motivasi untuk masuk sekolah dengan datang terlambat atau tidak masuk sekolah dengan alasan yang beragam.

Kebiasaan melaksanakan PJJ dan Work From Home hampir 1 tahun lamanya sejak Maret 2020 membawa dampak buruk soal disiplin waktu dan motivasi belajar anak, tak terkecuali gurunya. Kebiasaan santai, berleha-leha di rumah selama masa pandemi masih nampak terbawa diawal masuk sekolah.

Sebagai seorang yang bertanggung jawab dalam hal ini, saya selaku penanggung jawab disalah satu Sekolah Dasar di sudut kota Sumenep, menangkap perubahan ini. Saya kemudian segera mengumpulkan guru pada akhir pembelajaran pukul 10.30 WIB untuk konsolidasi dan pembinaan, dengan beberapa agenda seperti dibawah ini.

Mengoptimalkan Guru piket.

Karena Kabupaten Sumenep sebenarnya masih dalam zona merah, maka yang pertama menjadi fokus perhatian adalah bagaimana agar semua keluarga sekolah dalam berinteraksi satu sama lain tetap mengikuti protokol kesehatan.

Piket harian guru bertanggung jawab setiap harinya untuk datang lebih awal dari siswa untuk berdiri dipintu pagar sekolah dengan menyemprotkan disenfektan dan mengecek suhu tubuh siswa dengan termometer. Jika ada siswa yang dianggap kurang sehat maka dipersilahkan untuk kembali ke rumah dan belajar di rumah sampai benar-benar sehat.

Membiasakan menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak dengan temannya baik dalam kelas maupun diluar kelas. Semua guru bertanggung jawab menjaga keadaan ini dengan terus memantau pergaulan siswa baik dalam kelas, lebih-lebih diluar kelas.

Pernyataan bersedia melaksanakan PTM.

Sekolah menyebarkan Surat Pernyataan siap melaksanakan PTM kepada orang tua siswa. Jika ada orang tua siswa yang tidak bersedia, maka kepada siswa yang bersangkutan tetap dilayani untuk melaksanakan PJJ.

Tetapi hingga satu minggu pelaksanaan PTM ternyata tak ada satupun dari orangtua siswa yang keberatan dengan adanya PTM ini. Ini menunjukkan bahwa orang tua siswa sudah mendukung penuh PTM dilaksanakan.

Dari beberapa pernyataan secara lisan yang dapat kami himpun, memang orang tua siswa sebenarnya menginginkan PTM dilaksanakan sejak tahun ajaran baru dimulai pertengahan tahun 2020 kemarin. Tetapi karena ada aturan dilarang melaksanakan PTM dengan terpaksa menerima keadaan ini dengan PJJ.

Menggunakan Kurikulum darurat covid-19

Dalam melaksanakan PTM tetap menggunakan acuan kurikulum darurat covid-19 dengan alokasi waktu untuk kelas 1,2 dan 3, 5 jam pelajaran termasuk istirahat dengan durasi tiap jam 30 menit.

Sedangkan untuk kelas 4, 5 dan 6 dengan alokasi waktu 7 jam pelajaran termasuk istirahat dengan durasi yang sama yaitu 30 menit per jam pelajaran.

Waktu istirahat anak tetap didalam kelas, dengan memanfaatkan waktu istirahat dengan makan dan minum yang dibawa dari rumah. Anak tidak diperkenankan untuk jajan diluar sekolah.

Ketika waktu pulang tiba, maka anak dipersilahkan untuk langsung pulang kerumah masing-masing. Keadaan ini harus terus menjadi bagian pemantauan semua guru agar semua anak mematuhi semua ketentuan ini.

Berikut kami lampirkan Surat Pernyataan Orangtua dan Jadwal Pelajaran sesuai dengan kurikulum 2013 kondisi darurat covid-19.

Guru sebagai Agen Perubahan.

Menyandang gelar guru memiliki konsekwensi yang tidak ringan. Sesuai dengan namanya, guru harus bisa menjadi rujukan murid-muridnya untuk dapat digugu dan ditiru. Jika bisa menempatkan diri  sebagai guru yang baik, bijak, cakap, cerdas dan pintar, maka segala ucapan, perilaku, kepribadian dan segala apa yang ada pada dirinya akan menjadi perhatian dari muridnya.

Perhatian ini kan menimbulkan rasa kagum, kemudian murid akan mengidolakan dan merindukan kehadirannya setiap hari di Sekolah. Kekaguman ini akan menimbulkan sikap respect atau ta'dzim terhadap gurunya.

Respect atau ta'dzim ini mengandung makna suatu perbuatan yang mencerminkan perilaku sopan santun dengan menghormati guru dalam bentuk sikap konsentrasi, memperhatikan, mendengarkan nasehat-nasehatnya, meyakini dan tunduk patuh kepadanya. Totalitas kegiatan rohani atau jiwa ini hadir dengan kerelaan hati sebagai bentuk dari rasa kekaguman atas ilmu dan kepribadiannya yang baik.

Untuk itu guru harus berusaha memantaskan dirinya agar dapat menjadi suri tauladan yang baik untuk bisa dicontoh oleh murid-muridnya. Proses memantaskan diri inilah yang harus dilakukan terus menerus oleh seorang guru.

Proses memantaskan diri ini tidak bisa sehari dua hari jadi. Dia akan berproses dengan terus memperdalam ilmunya dengan belajar dan belajar tiada henti sepanjang hayatnya. Mengoreksi dan memperbaiki sikap dan perilakunya sehingga menjadi pribadi yang berkarakter yang bisa menginspirasi anak sepanjang hidupnya.

Dari gambaran diatas dapat anda bayangkan betapa sulitnya menjadi seorang guru. Mendikbud Nadiem Makarim dalam kata  sambutannya di depan  HGN tahun 2019 kemarin mengakui itu dengan mengatakan:" Tugas Anda adalah yang termulia sekaligus tersulit. Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan. Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu Anda habis mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas. Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan. Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup petualangan. Anda frustasi karena Anda tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal. Anda tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi.  Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi.”

Inilah realita yang harus kita hadapi. Tetapi kita tidak boleh berhenti melangkah. Ini justru menjadi tantangan bagi kita untuk terus melangkah maju. Inilah sejatinya inti dari guru sebagai agen perubahan itu. 

Dunia terus bergerak dan berubah. Ilmu pengetahuan terus berkembang sesuai dengan perubahan dan perkembangan jaman. Perubahan adalah keniscayaan. Guru harus senantiasa mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan itu.

Jika seseorang ingin ada perubahan dalam kehidupannya, maka mulailah dari diri sendiri. Motto ini sebenarnya sudah biasa kita dengar. Tetapi dalam prakteknya begitu susah untuk di terapkan. Sudah menjadi naluri orang kebanyakan, kita selalu terbiasa berada di zona nyaman dan inginnya tetap seperti itu.

Jika kita ingin ada perubahan, maka kita harus berani keluar dari zona nyaman. Tak ada yang instan didunia ini. Kita harus berani bersusah payah mengejar impian, baik itu impian lahir maupun bathin.

Impian lahir berupa keinginan atau cita-cita untuk mengejar kebahagian hidup didunia dengan menjadi seorang profesional di bidangnya. Karena kita sebagai seorang guru tentu tiada lain impian kita adalah menjadi guru yang profesional.

Impian bathin adalah keyakinan akan adanya kehidupan lain yang kekal abadi setelah kehidupan dunia berahir, dengan menjalankan agama dan keyakinannya sehingga menjadi seorang yang taat dalam bergama dan berprilaku yang baik dan santun didalam keluarga, sekolah dan di masyarakat.

Sebagai guru yang profesional, kita harus didepan memberi contoh tauladan yang baik sebagai agen perubahan kepada anak, dengan terus mencoba memantaskan dirinya baik lahir maupun bathin.

Berada ditengah anak-anak kita harus bisa menjadi teman belajar, mengayomi dengan rasa kasih sebagaimana kasih seorang bapak kepada anaknya dengan terus membangun daya atau kekuatan jiwa pada anak, sehingga tumbuh dan berkembang secara optimal.

Dari belakang kita bisa mendorong dengan sikap dan perilaku yang bisa mengisnpirasi anak untuk terus berubah, tumbuh dan berkembang dengan belajar dan beraktifitas sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.

Inilah yang dimaksud oleh pendahulu kita Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara dengan motto Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani. Di depan kita memberi contoh, ditengah kita mengayomi dan memperkuat daya, cipta dan karsa dan di belakang kita bisa mendorong anak untuk terus maju dan berkembang.

Menulis Buku Harian sebagai Gerakan Literasi Sekolah

Kalau kita tarik kebelakang, sejarah telah mencatat apa yang pertama diterima oleh Nabi kita, Nabi Besar Muhammad SAW, saat pertama kali menerima wahyu dari Allah yaitu anjuran atau perintah membaca. Iqro'=bacalah! Ini menunjukkan betapa pentingnya arti membaca bagi perjalanan kehidupan manusia.

Saat kita masuk usia sekolah dasar, mapel pertama yang diajarkan adalah soal membaca dan menulis. Ini dapat dimaknai bahwa pelajaran membaca dan menulis harus dilakukan secara simultan karena kita tahu bahwa membaca dan menulis adalah seperti dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan.

Pembelajaran membaca dan menulis ini harus terus diupayakan oleh guru agar anak memiliki kebiasaan membaca dan menulis. Ketika usia anak masuk umur 9-10 tahun di kelas 3 SD, anak mulai diperkenalkan untuk membuat buku harian dengan diminta untuk mencatat aktifitas keseharian mereka baik di rumah maupun di Sekolah.

Sayang sebagian besar guru hanya memandang pelajaran ini sebagai sebuah mapel yang hanya diajarkan sesaat untuk kepentingan pembelajaran semata, untuk kepentingan penilaian semata, untuk kepentingan memenuhi tuntutan kurikulum semata.

Seharusnya mapel ini harus dipandang sebagai sebuah permulaan mengenalkan literasi kepada anak, agar anak punya kebiasaan membaca dan menulis. Anak mulai diajari bagaimamana menuangkan apa yang ada dalam benak dan pikirannya untuk diwujudkan menjadi sebuah catatan sederhana tentang aktifitas hariannya berupa buku harian.

Kegiatan ini harus dipandang sebagai sebuah Gerakan Litersi Sekolah, yang harus ditindaklanjuti dengan dipantau terus menerus secara berkala oleh guru untuk menumbuh kembangkan kebiasaan membaca dan menulis.

Cara pandang ini harus dilanjutkan oleh guru yang lain ketika anak naik ke kelas berikutnya. Karena ini sebuah gerakan, maka tidak boleh berhenti hanya pada jenjang Sekolah Dasar saja, tetapi harus terus dilakukan oleh guru yang lain pada jenjang-jenjang diatasnya sampai pada Sekolah Menengah Atas.

Jika ini dilakukan secara simultan dan berjenjang maka dapat dipastikan ketika anak masuk usia Perguruan Tinggi, untuk membuat sebuah Karya Tulis Ilmiah ( KTI) bukanlah pekerjaan yang sulit dilakukan, karena anak sudah punya modal kebiasaan membaca dan menulis.

"Dengan membaca kita akan mengenal dunia, dengan menulis kita akan dikenal dunia"

Program Guru Penggerak.

Begitu pentingnya peran guru sebagai agen perubahan, maka untuk mewujudkan itu kemudian Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada pertengahan tahun 2020 kemarin, meluncurkan Program Guru Penggerak dengan cara merekrut guru-guru yang berminat untuk mendaftar.

Pendaftaran dapat dilakukan melalui laman:

https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/gurupenggerak/

Untuk mengikuti program ini guru harus lulus seleksi dan mengikuti pelatihan selama 9 bulan.

Pada laman ini disebutkan bahwa Pendidikan Guru Penggerak adalah program pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Program ini meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan Pendampingan selama 9 bulan bagi calon Guru Penggerak. Selama program, guru tetap menjalankan tugas mengajarnya sebagai guru.

Program ini akan menciptakan guru penggerak yang dapat:

1. Mengembangkan diri dan guru lain dengan refleksi, berbagi dan kolaborasi secara mandiri

2. Memiliki kematangan moral, emosi dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik

3. Merencanakan, menjalankan, merefleksikan dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada murid dengan melibatkan orang tua

4. Berkolaborasi dengan orang tua dan komunitas untuk mengembangkan sekolah dan menumbuhkan kepemimpinan murid

5. Mengembangkan dan memimpin upaya mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan relevan dengan kebutuhan komunitas di sekitar sekolah.

Guru Penggerak diharapkan menjadi katalis perubahan pendidikan di daerahnya dengan cara:

1. Menggerakkan komunitas belajar untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya

2. Menjadi Pengajar Praktik bagi rekan guru lain terkait pengembangan pembelajaran di sekolah

3. Mendorong peningkatan kepemimpinan murid di sekolah

4. Membuka ruang diskusi positif dan ruang kolaborasi antar guru dan pemangku kepentingan di dalam dan luar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran

5. Menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well-being ekosistem (ekosistem yang menyenangkan) pendidikan di sekolah

Program ini di peruntukkan untuk guru TK sampai SMA baik negeri maupun swasta yang telah terdaftar di Dapodik, dengan kwalifikasi minimal S1/D4. Memiliki pengalaman mengajar 5 tahun, memiliki masa sisa mengajar tidak kurang dari 10 tahun, dan tidak sedang mengikuti kegiatan diklat CPNS, PPG, atau kegiatan lain yang dilaksanakan secara bersamaan dengan proses rekrutmen dan pendidikan guru penggerak.

Program Guru Penggerak ini bertujuan untuk mencari bibit-bibit pemimpin di masa depan sebagai agen perubahan untuk terciptanya well-being ekosistem pendidikan di sekolah, sebagai bagian dari kebijakan Merdeka Belajar yang saat ini sedang dicanangkan oleh Pemerintah.

Semoga program ini berjalan sukses dan lancar, melahirkan guru-guru teladan sebagai agen perubahan, yang pada akhirnya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cemerlang di masanya baik lahir maupun bathin.

Dengan demikian tidak berlebihan kiranya kalau Guru dikatakan Sebagai Agen Perubahan khususnya pada anak dan ekosistem pendidikan di Sekolah pada umumnya. Mudah-mudahan catatan yang tertinggal ini bermanfaat untuk kita semua, PTM yang sudah berlangsung satu minggu terahir ini terus berlangsung, aman dan lancar dan covid-19 segera hilang dari muka bumi ini.

Tentu tak ada yang sempurna, untuk itu saran dan kritik kami harapkan di kolom komentar untuk kebaikan, sampai jumpa pada postingan selanjutnya.

Sumber:

https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/gurupenggerak/

https://gtk.kemdikbud.go.id/read-news/merdeka-belajar

Nur Hakim
Nur Hakim Fokus adalah salah satu kiat untuk sukses

2 comments for "Guru Sebagai Agen Perubahan"

  1. Luar biasa ...praktek lebih sulit dari pada teori..musuh terkuat adalah diri sendiri...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Praktek lebih sulit dari pada teori... So pasti...karena praktek merupakan perwujudan dari teori. Tetapi teori juga berasal dari praktek. Olleh karena itu keduanya harus berjalan simultan. Terimakasih p. Imam atas komentar dan kunjungannya. Mantap.....Jadilah guru penggerak yang literer.

      Delete