Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

GLS Dengan Menulis Buku Harian ( 2 )

Trulli

K egiatan membaca dan menulis buku harian kemudian menjadi agenda rutin setiap hari yang saya lakukan. Berolah raga juga menjadi bagian dalam perjalanan perantauan selama tiga tahun. Kegiatan olah raga yang saya tekuni adalah ikut seni beladiri INKAI ( Institut Karate-Do Indonesia ), namun hanya sampai Ban Biru ( grade dalam INKAI ). Setelah lulus dari SPGN Pamekasan, kembali ke Sumenep, kemudian aktifitas INKAI terhenti.

Berbeda halnya dengan menulis. Menulis bisa dilakukan dimana saja. Pada sisi lain kegiatan menulis buku harian akan mendorong tumbuhnya minat membaca. Hasil membaca buku, akan nampak dalam tulisan kita. Improvisasi gaya bahasa dan perbendaharan kata semakin bertambah dan semakin memperlancar dalam menulis, sekalipun itu buku harian. Apalagi tulisan berupa karya tulis ilmiah, kegiatan membaca menjadi sebuah keharusan sebagai landasan teori.

Konsistensi dalam Menulis

Konsisten dalam laman KBBI memiliki arti: tetap (tidak berubah-ubah), taat asas, ajek, selaras, sesuai. Dalam kegiatan apapun dibutuhkan konsistensi. Konsistensi dibutuhkan kemauan yang kuat, ketekunan, kesabaran dan fokus. Ini modal utama keberhasilan.

Dalam menulis buku harianpun dibutuhkan konsistensi. Jika kita terus konsisten, menulis setiap hari, yang awalnya hanya bisa menulis sebaris dua baris kalimat sederhana, maka selang beberapa minggu, bulan dan tahun akan nampak perkembangannya dengan semakin lancar menulis.

Setelah saya berada di Sumenep, sesekali pulang ke kampung halaman di pulau Kangean. Tetapi tidak lama, karena harus mempersiapkan lamaran dan test CPNS untuk menjadi seorang guru. Saat itu tes pertama kali dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sumenep untuk rekrutmen CPNS guru yang sebelumya tidak pernah dilakukan. Ketika lulus SPG biasanya langsung mengajukan lamaran dan diangkat.

Selama masa menunggu, untuk mengisi waktu senggang kegiatan menulis buku harian tetap dilakukan. Kebiasaan membaca koran juga tetap dilakukan, karena kebetulan rumah paman yang saya tumpangi di Sumenep adalah seorang PNS lulusan Sarjana Pertanian UGM yang bekerja di Dinas Pertanian juga termasuk orang yang gemar membaca.

Dia sering membawa koran ke rumah sepulang dari kantor dan saya ikut membaca. Buku-buku lain dirumah juga banyak, seperti majalah pertanian "Trubus", Majalah Femina dan buku-buku ilmiah populer juga ada.

Kegiatan menulis buku harian biasanya saya lakukan di malam hari. Jika tidak sempat menulis hari itu, maka hari berikutnya biasanya saya rappel. Kegiatan menulis buku harian bukan lagi menjadi beban. Menulis buku harian seakan sudah menjadi agenda rutin yang harus saya lakukan setiap hari, menulispun semakin lancar.

Sesekali mencoba membuat puisi. Ternyata bisa juga. Pernah mencoba mengirim pada salah satu Majalah bulanan yang menyediakan rubrik puisi. Dari beberapa puisi yang saya kirim hanya satu yang dimuat, dan alhamdulillah beberapa hari kemudian ada kiriman wesel pos dengan nominal uang kalau tidak salah 7.500 rupiah.

Bisa anda bayangkan, gaji pokok guru CPNS baru diangkat waktu itu hanya 16.960 rupiah. Total penerimaan di daftar gaji kisaran 21.000 rupiah, belum potongan ini dan itu. Itulah sebabnya ketika saya diangkat awal Desember tahun 1980 dan mulai memerima gaji awal tahun 1981, perasaan saya biasa-biasa saja, bahkan terus terang sedikit kecewa. Saya pikir, begitu rendahnya penghargaan Pemerintah terhadap seorang guru.

Dalam hati hanya berguman, betapa kecilnya gaji seorang guru. Dengan menulis satu puisi saja yang masuk, mendapat penghasilan 7.500 rupiah. Bayangkan, jika banyak puisi yang lolos dari sensor redaksi atau karya-karya tulis yang lain yang lebih panjang dan berbobot. Waktu itu saya masih ingat, satu tahun terahir sebelum terima gaji, mendapat kiriman dari orang tua 20 ribu perbulan. 

Jadi tidak heran, jika teman saya SMP hanya dapat dihitung dengan jari yang melanjutkan ke SPG. Tidak heran pula jika masyarakat  yang memiliki anak gadis perawan, jika dilamar seorang guru SD, orang tuanya masih mikir-mikir saat itu. Tetapi jika yang melamar adalah pegawai bank, perum garam, tenaga medis, mereka langsung welcome please...! Heee.

Saat diangkat pertama kali mendapat tugas di pulau Masalembu, tepatnya di SDN Sukajeruk II. Tetapi karena ada kejadian tenggelamnya kapal Tampo Mas II di perairan Masalembu awal Januari 1981 keberangkatan saya bersama teman-teman seangkatan 24 orang akhirnya tertunda.

Kapal Perintis yang seharusnya membawa kami semua dari pelabuhan Kalianget ke Masalembu pada hari yang sudah direncanakan, tidak jadi berangkat, karena kapal dimanfaatkan untuk mengevakuasi korban Tampo Mas II yang tenggelam akibat kebakaran dalam kapal dan cuaca buruk saat itu.

Kuliah di IKIP PGRI Sumenep & Kursus Bahasa Inggeris.

Kegagalan berangkat ke Masalembu ini membawa hikmah tersendiri. Saya mendaftar kuliah di IKIP PGRI Sumenep yang saat itu masih numpang di SDN Muncol, Desa Kolor Kecamatan Kota Sumenep, yang saat ini berubah nomen klatur menjadi SDN. Kolor II.

Waktu luang ini juga saya manfaatkan untuk ikut kursus Bahasa Inggeris pada pak Slamet, yang saya tahu dia kemudian menjadi Guru Bahasa Inggeris di SMPN I Saronggi. Selama kurang lebih satu tahun saya kursus Bahasa Inggris di rumahnya, ketika itu masih menempati lokasi kawasan Perumahan PJKA di Desa Bangselok Sumenep.

Perjalanan tugas menjadi seorang guru kemudian tersendat. Selama bulan Januari sampai April 1981, saya diperbantukan di Kantor Ranting Dinas P & K Perwakilan Masalembu di Sumenep, sebelum ahirnya mengajukan mutasi, pindah ke SDN Soddara II Kecamatan Pasongsongan terhitung bulan April 1981.

Ketika awal pindah ke Kecamatan Pasongsongan, saya tetap berada di Kantor Perwakilan Pasongsongan di Sumenep. Membantu juru bayar gaji, membuat daftar gaji semua sekolah yang ada di Kecamatan Pasongsongan.

Dengan banyaknya kegiatan, mulai dari kuliah, kursus Bahasa Inggris dan tugas kantor, kegiatan menulis buku harian mulai seringkali lalai dan terlupakan. Ada keasikan baru yang saya tekuni yaitu belajar bahasa Inggris.

Jika ingin berhasil dalam kursus bahasa Inggris menurut teman-teman yang sudah sukses bisa conversation, harus ada kegilaan baru yang harus dilakukan yaitu tiada waktu tanpa bahasa Inggeris. "Kemanapun kamu pergi, kamu harus membawa buku atau catatan kecil yang dapat dengan mudah kamu baca, hatta ke WC sekalipun" begitu saran teman saya. Saran ini saya coba praktekkan selama 1 tahun.

Membaca buku-buku pelajaran bahasa Inggris seperti buku gratis dari Radio Australia ABC (Australian Broadcasting Commission), BBC (British Broadcasting Corporation) London, mencatat jika ada kata-kata yang tidak tahu artinya, kemudian membuka dan mencari terjemahannya di kamus Bahasa Inggris - Bahasa Indonesia, mencoba membaca novel berbahasa Inggris adalah kegiatan rutin harian. Jadi semua waktu praktis tersita dengan kegiatan-kegiatan itu sehingga menulis buku harian menjadi sering terabaikan.

Membuat Blog Sekolah.

Tanpa terasa waktu terus berjalan. 40 tahun sudah kegiatan menulis buku harian terhenti. Tetapi kegiatan membaca tetap dilakukan. Kuliah terus berlanjut dari Sarjana Muda di IKIP PGRI sampai lulus Sarjana di UNDAR Jombang Jawa Timur tahun 1986.

Kebiasaan membaca koran juga terus berlanjut, bahkan sempat berlangganan Jawa Post dan tabloid mingguan. Wartawan Jawa Post Nani Wijaya adalah wartawan favorit saya. Laporan-laporannya selalu menarik perhatian dengan bahasa tutur yang enak dibaca. 

Dahlan Iskan Menteri BUMN era Presiden SBY masih menjadi CEO Jawa Post kala itu. Dia juga aktif menulis walaupun menjadi seorang SEO. Saya sangat suka gaya bahasa tulisnya. Seperti orang bertutur kata dengan pembaca, mengalir lancar sepertinya gampang menulis.

Untuk artikel saya sangat suka tulisan Agus Mustofa, arek Malang lulusan Tehnik Nuklir UGM Yogyakarta tahun 1990. Dia sering mengisi rubrik artikel Jawa Post dan akhirnya bergabung menjadi wartawan Jawa Post tahun 1990. Terahir yang saya tahu, dia menjadi penulis yang produktif, melahirkan banyak buku-buku tasawuf modern tentang Islam. Hal-hal yang penting dan menarik perhatian saya kliping.

Pada tahun 1988 mengajar Bahasa Jerman di MA ROBIN ( Roudhathut Tholibin ) Kolor Sumenep. Pernah juga membantu mengajar Bahasa Jerman di MA Ponpes Karang Campaka Bluto tahun 1989-1990 saat KH. Ramdlan Siradj belum menjadi Bupati Sumenep 2 periode. Dari tahun 1992-1996 mengajar Bahasa Jerman di MAN Sumenep sebelum akhirnya Bahasa Jerman dihapus dari kurikulum.

Kegiatan menulis kembali muncul sejak membuat blog/website Sekolah bersama teman-teman Kepala Sekolah pertengahan tahun 2020 kemarin.

Tepatnya tanggal 18 Mei 2020 beberapa teman-teman KS SD berkumpul, belajar membuat website sekolah. Pertemuan inilah yang merupakan cikal bakal berdirinya Komunitas BBC ( Bimo Boldozer Comunity ). Anggotanya ada 26 orang dan merupakan katalisator KS yang concern terhadap ICT atau TIK. Apa itu BBC, lihat pada situs dibawah ini.

https://bbcsumenep.blogspot.com/

Pertemuan awal ini pula yang merupakan awal berdirinya website sekolah dengan nama SDN KEBUNAGUNG II dengan alamat situs:

https://www.sdnkebunagung2.sch.id/

Dengan adanya blog sekolah ini aktifitas menulis kembali menggeliat. Ibarat mesin yang tidur selama 40 tahun, gak pernah dihidupkan maka hampir semua komponen perangkat telah berkarat dan rusak. Untuk menghidupkannya kembali bukanlah pekerjaan yang mudah.

Kebiasaan menulis buku harian yang sudah 40 tahun lamanya terhenti, begitu susah untuk dihidupkan kembali. Sebagaimana pernah saya tulis pada awal saya membuat blog ini pada postingan yang berjudul: Belajar Membuat Blog Baru bahwa menulis pada blog sama saja dengan menulis buku harian.

Perbedaanya, kalau menulis buku harian adalah menulis dengan tulisan tangan secara manual di buku tulis, sedangkan di blog adalah menulis dengan mengetik di smartphone, laptop/PC dan tersimpan di awan. Buku harian sebagai konsumsi pribadi, sedangkan menulis di blog sudah menjadi konsumsi publik.

Jadi pada dasarnya menulis buku harian sama saja dengan menulis di blog. Kita menulis konten di blog, dari apa yang telah kita alami dan ketahui sebelumnya.

Hal ini sesuai dengan konsep dasar menulis sebagaimana yang pernah disampaikan penulis JK. Rouling, penulis novel Harry Potter:

"Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri"

Jika kita sudah terbiasa menulis buku harian, dimana isinya adalah pengalaman pribadi yang dieksplor, tentu tidak akan banyak lagi kesulitan ketika kita mau memulai menulis di Blog. Karena saya sudah lama tidak menulis, maka kesulitan merangkai kata dan kalaimat itu kembali menjadi nol dan harus memulai dari awal lagi.

Tetapi ibarat jalan yang sudah pernah dilalui, maka untuk kembali lewat jalan yang sama tidaklah terlalu sulit, asal ada kemauan kuat untuk memulai dan kesabaran dalam merangkai kata perkata maka jadilah sebuah artikel.

Secara perlahan menulis di blog kembali berjalan sebagaimana pengalaman menulis buku harian dulu. Dasar menulis sudah ada, tetapi tantangan menulis di blog memang sedikit berbeda, karena tulisan kita akan dibaca oleh orang lain dan sudah menjadi ranah publik.

Tetapi ini justru menjadi pemicu adrenalin kita untuk tampil menulis dengan lebih baik, lebih rapi, hati-hati dan lain sebagainya. Soal hasil kwalitas tulisan itu adalah urusan pengunjung blog yang menilai.

Beda halnya dengan menulis di Media Massa, yang menilai tulisan kita layak atau tidak adalah redaksi. Jika tidak layak tayang maka tulisan kita tidak akan pernah muncul dan sampai kepada pembaca. Jika layak menurut redaksi maka akan terbit dan kita memperoleh imbalan income karenanya.

GLS Dengan Menulis Buku Harian

Atas dasar pengalaman menulis buku harian diatas dan pengalaman menulis di blog, kemudian saya terinspirasi bahwa dengan membiasakan menulis buku harian, maka akan muncul kebiasaan membaca dan menulis dari dalam diri seseorang tanpa harus diminta untuk membaca dan menulis dari siapapun. Inilah yang kita harapkan terjadi pada anak kita di Sekolah.

Menulis buku harian adalah sebagai arena berlatih menuangkan apa yang ada dalam pikiran sehingga terwujud dalam bentuk tulisan. Menulis buku harian adalah sebagai sarana berlatih meyampaikan ide-dan gagasan dalam bentuk tulisan. Ibarat sebuah tangga, menulis buku harian adalah tangga untuk mencapai kemampuan menulis dalam bentuk lain.

Minat baca dengan sendirinya akan terpicu sejalan dengan kebiasaan menulis yang terus berkembang. Seiring perjalanan waktu, nantinya kemampuan menulis tidak saja hanya sekedar menulis buku harian, tetapi akan terus berlanjut menulis topik atau tema yang lain seperti puisi, cerpen, artikel dan lainnya.

Bisa anda bayangkan jika kebiasaan menulis buku harian ini dimulai dari sejak dini, dari anak usia SD kelas III sampai tamat SMA. Waktu 10 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk membiasakan anak menulis.

Jika menulis buku harian sejak dini ini diterapkan, dijadikan sebuah kebijakan gerakan literasi sekolah, yang dilaksanakan secara masif, terstruktur, berjenjang dan didukung oleh semua kalangan, nantinya anak akan siap masuk Perguruan Tinggi. Disini kemampuan literasi kembali diasah dengan membuat karya tulis ilmiah dan karya-karya tulis yang lain sesuai dengan jurusan dan bidang keahliannnya masing-masing.

Dengan berbekal kemampuan dasar menulis buku harian, dipertajam kemampuan literasi itu di Perguruan Tinggi, bukan tidak mungkin dalam waktu 15 tahun kedepan akan melahirkan generasi-generasi baru yang dahsyat, generasi melineal yang literer, generasi masa depan yang siap menghadapi dan menaklukkan tantangan jaman.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dalam suatu kesempatan pernah mengatakan bahwa tingkat literasi menjadi tolak ukur kemajuan bangsa. Semakin tinggi tingkat literasi maka semakin maju sebuah bangsa. Ciri-ciri bangsa yang maju adalah bangsa yang sangat kokoh dalam membangun tradisi literasinya.

Semoga bermanfaat, mudah-mudahan siapa yang membaca tulisan ini tergerak untuk memulai menulis dengan membuat buku harian atau menulis di blog. Dont put of till tomorrow what you can do today. Jangan tunda hingga hari esok, apa yang dapat kamu lakukan hari ini. Lakukan sekarang, sebab hari esok belum tentu milik kita.

Dengan menulis, kemampuan literasi akan  semakin terasah, minat baca akan semakin tinggi, dan wawasan keilmuan akan semakin luas, yang pada akhirnya akan mampu mengantar masyarakat Indonesia semakin maju.

Jika kemajuan suatu bangsa identik dengan tingginya tingkat literasi dan tingkat kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat yang tinggi, maka pada saat yang sama Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghofur otomatis akan terwujud. Wallahu a'lamu.

Artikel ini tentu jauh dari sempurna, untuk itu saran dan tanggapan kami harapkan dikolom komentar untuk kebaikan, sampai jumpa pada postingan berikutnya. Salam literasi!

Nur Hakim
Nur Hakim Fokus adalah salah satu kiat untuk sukses

Post a Comment for "GLS Dengan Menulis Buku Harian ( 2 )"