Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

GLS Dengan Menulis Buku Harian ( 1 )

Trulli


G erakan Literasi Sekolah ( GLS ) sudah lama digaungkan oleh pemerintah. Pada postingan sebelumnya Membangun Budaya Literasi di Sekolah dan Guru Sebagai Agen Perubahan sedikitnya sudah dibahas tentang salah satu cara membangun Budaya Literasi di Sekolah dengan cara membiasakan anak sejak dini menulis Buku Harian.

Tepatnya pada anak kelas 3 SD anak sudah mulai diperkenalkan bagaimana menulis buku harian. Hanya sayang mapel ini hanya sekedar dijadikan mapel untuk tujuan memenuhi target kurikulum semata. Belum dijadikan sebuah momentum awal yang baik untuk menjadikan sebuah gerakan literasi sekolah yang masif yang bisa dikembangkan secara simultan, berjenjang untuk membiasakan anak gemar membaca dan menulis sejak dini.

Ide ini murni berangkat dari pemikiran saya. Soal ide ini sampai pada anda atau pembaca yang lain itu urusan lain. Saya hanya mencoba menuangkan apa yang pernah saya alami dan mengungkapkan di blog ini sebagai catatan pribadi.

Blog ini adalah blog pribadi tempat saya belajar menulis dan membaca. Jika anda kebetulan membaca tulisan saya dan anda setuju, anda mengeterapkan di Sekolah anda dan kemudian memberikan kontribusi yang baik bagi peningkatan minat baca anak di Sekolah anda...alhamdulillah. Mudah-mudahan menjadi amal jariyah bagi saya.

Menurut saya cara ini perlu didukung dan dimasukkan sebagai sebuah kebijakan oleh Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan memasukkan sebagai sebuah Gerakan Literasi Sekolah sebagaimana anjuran 15 menit membaca sebelum pelajaran dimulai yang efektifitasnya masih belum terbukti bisa mendongkrak minat baca anak.

Kenyataan yang ada di Sekolah, banyak anak yang hanya sekedar membolak balik buku saja tanpa membaca buku yang ada ditangannya. Mereka hanya sekedar mengikuti perintah guru untuk membaca, sehingga kelihatan seperti membaca tapi sebenarnya tidak. Motivasi instrinsik dari dalam diri anak belum muncul untuk membaca sungguh-sungguh, sehingga isi bacaan bisa dipahami dan dapat menambah perbendaharaan wawasan keilmuan anak.

Pernyataan diatas bukan tanpa dasar sama sekali. Sejak gaung GLN 2016 dan GLS mulai disosialisasikan tahun 2017 hingga saat ini belum ada bukti empiris yang bisa menunjukkan gerakan 15 menit membaca ini bisa meningkatkan minat baca anak.

Asumsi ini bisa juga benar bisa juga salah. Mari kita coba berpikir agak logis. Membaca itu adalah aktifitas pribadi seseorang yang sulit dilihat dengan kasat mata apakah benar seorang yang pegang buku benar-benar ia sedang membaca. Jangan-jangan hanya sekedar kamulflase untuk mengelabui orang yang melihat agar terlihat nampak membaca, padahal dia sedang melamun atau pikirannya ada dimana-mana.

Kita bisa lihat anak kita sendiri atau murid kita di Sekolah. Ketika kita mengingatkan anak untuk belajar, dia menurut, dia kelihatan belajar, membaca didepan kita. Begitu juga di Sekolah, guru meminta anak untuk membaca, apakah itu pelajaran harian atau GLS yang 15 menit itu. Kelihatan anak membaca, tetapi kita tidak tahu apakah anak benar-benar mambaca atau tidak. Itu dihadapan kita, apalagi jika diluar pengawasan atau kontrol kita. Bisa anda bayangkan itu.

Lalu bagaimana cara agar anak bisa tumbuh minat membaca dan menulis sekaligus dalam dirinya sehingga tanpa diminta dan disuruh anak tergerak sendiri untuk membaca. Tanpa diminta untuk belajar anak dengan kesadaran sendiri belajar. Tanpa diminta untuk membaca 15 menit, anak sudah membaca duluan, bahkan tanpa diminta anak datang sendiri ke Perpustakaan untuk membaca buku-buku di Perpustakaan dengan sukarela. Motivasi membaca benar-benar datang dari dalam diri anak, bukan atas permintaan atau suruhan dari orang lain. Keadaan inilah yang kita harapkan terjadi dalam diri anak.

Apakah itu bisa dilakukan?. Tak ada yang tidak mungkin jika kita mau berupaya. Kita tahu, anak datang ke Sekolah kita dengan latar belakang yang beragam. Tentu ini tantangan bagi guru.

Pengaruh lingkungan keluarga sangat dominan mempengaruhi kebiasaan anak. Anak yang datang dari lingkungan keluarga yang literer atau punya kebiasaan membaca di rumah, cenderung lebih mudah bagi guru untuk mengarahkan anak. Tetapi sebaliknya, jika anak datang dari keluarga yang tidak peduli dengan literasi, maka akan susah bagi guru untuk menumbuhkan minat baca tadi.

Yang terahir ini justru yang banyak terjadi dalam keluarga kita, sebagaimana apa yang pernah dilansir oleh UNESCO, bahwa satu dari seribu orang Indonesia yang memiliki kebiasaan membaca.

Kalau kita mau jujur, bahkan gurunyapun lebih banyak termasuk dalam kelompok orang yang seribu ini. Padahal kita tahu bahwa tugas utama guru seharusnya adalah harus didepan memberi contoh tauladan perilaku yang baik kepada anak, termasuk kebiasaan membaca ini sebagai wujud dari Long Life Education.

Lantas apa yang bisa kita lakukan ?. Sebagai guru, jika kita sudah kadung tidak bisa memberi contoh yang baik dalam hal literasi, karena kita sudah sulit merubahnya; atau kita bisa memberi contoh yang baik soal literasi, karena kita sudah termasuk dalam katagori literer, tetapi tetap tidak bisa mempengaruhi anak untuk meningkatkan minat baca anak, maka lakukanlah cara lain.

Cara lain itu bisa dengan memberikan pembiasaan-pembiasaan dengan sedikit paksaan tanpa merasa anak dipaksa. Memberikan motivasi atau dorongan kepada anak bahwa pada dasarnya setiap orang mempunyai potensi yang dapat dikembangkan, hanya karena tidak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang sehingga potensi itu tidak dapat berkembang secara maksimal.

Dalam hal membaca dan menulis pada dasarnya setiap anak memiliki potensi untuk menulis. Jika punya kesempatan berkembang dan caranya tepat, maka kemampuan dasar literasi itu akan berkembang dengan cepat diluar ekspektasi pemikiran kita sebagai guru. 

"Penulis tidak pernah dilahirkan, tetapi dia diciptakan. Bakat menulis tidak selalu dibawa sejak lahir,
    tetapi tumbuh oleh satu motivasi dan gagasan"( Bambang Trimansyah - penulis Indonesia )

Untuk menumbuhkan motivasi dan gagasan inilah tugas kita sebagai guru memiliki peranan yang penting. Menulis bukan bakat, tetapi menulis adalah pembiasaan yang perlu banyak latihan . Pembiasaan menulis dari awal harus diciptakan oleh guru agar tumbuh motivasi dalam diri anak untuk menulis. Gagasan-gagasan baru akan muncul jika pembiasaan menulis sudah tertanam dalam jiwa anak.

Menulis Buku Harian

Diatas telah disinggung bahwa cara untuk meningkatkan minat baca anak, salah satu caranya adalah membiasakan anak menulis buku harian. Dan momentum yang tepat untuk memulai gerakan literasi itu ada pada anak kelas 3 SD karena disana anak mulai diperkenalkan mapel tentang menulis buku harian.

Saya akan mencoba menulis sebuah pengalaman pribadi dalam kaitannya dengan menulis buku harian. Tak ada yang dapat dibanggakan sebenarnya dari apa yang pernah saya alami ini. Saya juga bukan siapa-siapa. Bukan pembaca yang baik, bukan penulis, bukan wartawan, bukan novelis, tidak punya hasil karya tulis berupa apapun, baik puisi, cerpen, apalagi karya tulis ilmiah berupa buku-buku yang sudah menjadi konsumsi publik.

Saya hanyalah guru biasa yang mencoba belajar menulis. Sebagai guru, saya bukanlah guru berprestasi yang pernah masuk nominasi guru berprestasi baik di tingkat lokal apalagi Nasional. Ikut lomba guru berprestasi saja tidak pernah. Sebagai guru saya hanyalah guru biasa yang mencoba belajar menulis di Blog, itu saja.

Pengalaman menulis buku harianpun hanya bisa berlangsung kurang lebih 3 tahunan. Pengalaman itu yang akan saya coba tulis dan bagaimana pengaruhnya terhadap minat baca dan kemampuan membaca dan menulis atau literasi di kemudian hari.

Sejak saya kelas 3 SPG tahun 1980 saya tertarik untuk menulis buku harian. Tak ada orang yang menyuruh atau meminta saya untuk menulis buku harian. Ketertarikan untuk menulis itu tiba-tiba saja datang dengan sendirinya. Atau mungkin bisa saja karena ada faktor lain yang mempengaruhi sebelumnya, hanya saya tidak menyadarinya. Atau mungkin sudah lupa, karena itu sudah belangsung lebih 40 tahun yang lampau.

Saya membeli sebuah buku tulis tebal, kisaran isi 100 lembar. Mulailah saya menulis. Awalnya begitu susah menulis. Mengungkapkan kembali apa yang sudah dialami atau dilakukan hari itu susahnya bukan main. Mau merangkai kata per kata sehingga menjadi sebuah kalimat pernyataan saja susahnya bukan main.

Kadang harus lama duduk dengan buku dan pena yang sudah siap untuk menulis, tapi tak kunjung bisa menulis. Untuk menghasilkan tulisan sebaris, dua baris kalimat saja rasanya susah bukan kepalang. Untuk mengungkap isi hati dalam bentuk bahasa tulis susahnya bukan main.

Jika sudah jenuh, saya tutup buku harian, kemudian bermain sebagaimana layaknya anak remaja kebanyakan yang masih umur 18 tahun. Waktu itu saya kos dirumah saudara nenek. Mereka berlangganan koran, kalau tidak salah berita Harian Kompas dan Jawa Post. Saya sering nimbrung membaca, memanfaatkan waktu senggang. 

Sejak lulus SMP saya sudah harus merantau, harus pisah dengan bapak ibu dan saudara yang lain untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih tinggi. Waktu itu di daerah saya, lembaga pendidikan tertinggi hanya setingkat SMP. Di rumah saudara nenek inilah pengalaman pertama sebagai orang perantauan dengan menimba ilmu keguruan di SPGN (Sekolah Pendidikan Guru Negeri) Pamekasan Madura. 

Perpustakaan Sekolah.

Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah juga menjadi bagian sebuah Gerakan Literasi Sekolah. Perpustakaan adalah gudangnya ilmu pengetahuan. Berbagai macam jenis bacaan ada disana. Anak tinggal mencari dan memilih buku sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Guru tinggal menggerakkan saja agar anak senantiasa memanfaatkan buku-buku perpustakaan sebagai sumber belajar.

Sesekali saya juga mengunjungi perpustakaan sekolah. Kebetulan sejak masuk tahun 1977 ada proyek pembangunan sekolah baru berupa tambahan lokal yang lengkap dengan sarana perpustakaannya. Yang saya pinjam, hanya sebatas buku-buku yang ringan, seperti kumpulan puisi, kumpulan cerpen dan cerita-cerita ringan yang lain. Novel NH. Dini "Keberangkatan" juga pernah saya pinjam dan baca, tetapi saya sudah lupa ceritanya.

Sekali waktu saya menemukan sebuah buku yang pernah diceritakan oleh guru saya ketika SMP kelas II. Saya masih ingat betul nama guru itu dan termasuk guru favorit yang saya kagumi. Namanya pak Sudarma, guru Bahasa Indonesia.

Yang unik dari cara mengajar dia, dia selalu mendongeng di dalam kelas ketika mengajar. Saya ingat betul bagaimana ketika dia mengajar Sastra Indonesia. Dia mendongeng isi sebuah novel " Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai " karya Marah Roesli dan " Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck " karya Hamka ( Haji Abdul Malik Karim Amrullah )

Dia mendongeng dari awal sampai ahir kedua buku itu secara runtut dengan contoh-contoh percakapan dari tokoh-tokoh cerita dalam buku itu. Kisah percintaan antara Siti Nurbaya dan Samsul Bahri dan tokoh antagonis Datuk Maringgih dia ceritakan lengkap dengan contoh-contoh pantunnya. Juga tentang kisah percintaan Zainuddin dan Hayati yang berakhir tragis dengan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dia ceritakan dengan menarik.

Buku itu baru saya tahu ketika saya sekolah di SPG Pamekasan. Luar biasa saya pikir guru ini, menceritakan buku setebal itu dengan bahasa yang indah, sehingga semua anak terkesima mendengarnya.

Kegiatan membaca dan menulis buku harian saya lakukan secara rutin dan dilakukan di waktu senggang. Jika jenuh membaca, saya coba untuk menulis buku harian semampunya walaupun hanya sebaris dua baris kalimat. Begitu seterusnya setiap hari. Untuk apa menulis buku harian, saya juga tidak tahu saat itu. Saya juga baru menyadari dan merasakan manfaatnya ketika berpuluh-puluh tahun kemudian.( Bersambung )
Nur Hakim
Nur Hakim Fokus adalah salah satu kiat untuk sukses

Post a Comment for "GLS Dengan Menulis Buku Harian ( 1 )"