Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Membangun Budaya Literasi di Sekolah.

,
Trulli


K etika kita mendengar kata literasi, yang terbayang dalam benak kita adalah kegiatan membaca dan menulis. Kata literasi sendiri berasal dari bahasa Inggris "leteracy " yang artinya kecakapan membaca dan menulis, hal melek huruf.

Dalam perkembangannya, kemudian literasi mengandung makna yang lebih luas, tidak hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi kemampuan berhitung juga termasuk dalam pengertian literasi, sehingga kemudian dikenal dengan istilah literasi numerasi. Lalu apa sebenarnya Literasi itu?

Pengertian Literasi

Banyak kemudian pakar atau para ahli atau organisasi yang menjelaskan pengertian tentang literasi ini. Mari kita ambil contoh beberapa pakar atau ahli yang menjelaskan tentang pengertian Literasi.

1. Menurut Merriam - Webster

Menurut kamus online Merriam - Webster, Literasi adalah suatu kemampuan atau kualitas melek aksara di dalam diri seseorang, dimana didalamnya terdapat kemampuan membaca, menulis dan juga mengenali serta memahami ide-ide secara visual.

2. Menurut UNESCO

Menurut UNESCO " The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization " Literasi ialah seperangkat keterampilan nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh, dan bagaimana cara memperolehnya.

Menurut UNESCO, kemampuan seseorang mengenai literasi ini dipengaruhi oleh kompetensi di bidang akademik, konteks nasional, institusi, nila-nilai budaya serta pengalaman.

3. National Institute for Literacy

Menurut National Institute for Literacy, Literasi adalah kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.”

Definisi ini memaknai Literasi dari perspektif yang lebih luas dan kontekstual, didalamnya terkandung makna bahwa literasi merupakan kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah pada tingkat keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu.

Menurut laman Wikipedia, Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa.

Dari pemahaman diatas dapatlah disimpulkan bahwa pada intinya literasi adalah kemampuan seorang dalam hal membaca dan menulis atau berbahasa.

Literasi di Indonesia.

Pentingnya membangun budaya literasi ini sepertinya ditangkap benar oleh pemerintah saat ini. Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan tentang budaya literasi ini, Indonesia termasuk negara terendah kedua di dunia.

Dari laman kominfo diperoleh fakta bahwa UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia,
cuma 1 orang yang rajin membaca.

Fakta lain dari riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

Dari fakta diatas dapatlah dimengerti kalau kemudian pemerintah pada tahun 2016 meluncurkan gerakan Program Literasi Nasional ( GLN ) sebagai bentuk implementasai dari peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. 

Sebagai upaya untuk mengangkat budaya literasi, GLN kemudian mengkordinasi banyaknya komunitas, pegiat atau gerakan litersi yang muncul seperti Rumah Litersai, Gerakan Literasi Keluarga, Gerakan Literasi Masyarakat, yang mulai banyak tersebar di pelosok Nusantara. 

Gerakan ini kemudian dibarengi dengan penguatan perpustakaan dengan penyebaran buku-buku bacaan, perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah, perpustakaan keliling dan lain sebagainya.

Upaya ini semua dilakukan agar mendekatkan masyarakat atau anak khususnya kepada sumber belajar yang utama yaitu buku-buku bacaan yang dibutuhkan anak untuk bisa hidup di masyarakat yang semakin komplek.

Literasi di Sekolah.

Gaung Gerakan Literasi Nasional ini kemudian sampai ke Sekolah dengan nama Gerakan Litersi Sekolah ( GLS ), walaupun sebenarnya soal literasi ini di Sekolah bukanlah hal baru.

Sejak tahun 2010an pemerintah mulai menggelontorkan dana untuk pembangunan sarara dan prasarana perpustakaan pada tingkatan Sekolah Dasar. Secara perlahan banyak sekolah yang sudah memiliki sarana perpustakaan dan buku-buku yang yang relatif lengkap, sampai pada tingkatan Sekolah Dasar yang ada di pelosok negeri.

Sayang memang, kebijakan pemerintah tentang program pengadaan sarana dan prasarana perpustakaan ini dimulai dari tingkatan paling atas, dari Perguruan Tinggi, baru turun hingga Sekolah Dasar. Bukan sebaliknya dari tingkatan Sekolah Dasar baru naik ke atas. Sehingga kemudian dasar-dasar budaya literasi anak menjadi lemah untuk menjadi modal dasar anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Menumbuhkan Budaya Literasi di Sekolah

Untuk membangun dan menumbuhkan budaya literasi di Sekolah, khususnya Sekolah Dasar bukanlah pekerjaan yang mudah.

Ketersediaan sarana dan prasarana perpustakaan dan sarana pendukung lain seperti pojok baca di tiap kelas, pohon baca di halaman sekolah dan lain-lain bukanlah jaminan untuk bisa menumbuhkan minat baca yang tinggi pada anak.

Begitu juga dengan pembisaan membaca yang dicanangkan pemerintah, dalam Gerakan Literasi Sekolah, salah satunya dengan memasukkan pembiasaan membaca 15 menit diawal pelajaran sebelum dimulai di kelas. Ide ini pada prakteknya tidaklah berjalan mulus, waktu 15 menit pada pembelajaran klasikal dengan banyak siswa, apa yang bisa diperoleh oleh anak dengan membaca 15 menit itu.

Persoalan menumbuhkan dan mengembangkan budaya literasi pada anak memang sebuah persoalan yang kompleks.

Bagaimana menanamkan budaya literasi kepada anak di sekolah bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, sementara gurunya sendiri tidak memiliki kebiasan membaca dan menulis.

Demikian halnya dengan orang tua di rumah. Dalam lingkungan keluarga, mungkin hanya dapat dihitung dengan jari, anggota keluarga yang mempunyai budaya literasi di rumah.

Padahal dari rumahlah, semua itu berawal. Sementara setiap harinya anak tidak pernah melihat orangtua membaca buku, majalah, koran dan lainnya. Tak ada satupun bahan bacaan yang ada diruang tamu maupun di ruang keluarga yang bisa dijangkau oleh anak ketika ia memiliki waktu senggang.

Tak ada alternatif buku bacaan lain selain buku pelajaran yang ada di Sekolah. Sementara, kita tahu setiap anak memiliki kemampuan dan keunikan tersendiri soal minat baca. Perlu ada banyak variasi bacaan agar tumbuh minat baca pada anak.

Kepedulian orang tua terhadap budaya literasi pada keluarga kita dirumah masih terbilang sangat rendah. Keadaan ini terbawa oleh anak sampai ke Sekolah.

Disinilah tugas utama guru sebagai pendidik dan pengajar menjadi sangat berat. Tetapi ini justru menjadi tantangan bagi guru untuk terus bergerak maju.

Tugas guru yang terpenting selain mengajar adalah bagaimana menumbuh kembangkan gairah belajar dari dalam diri anak sehingga tercipta kemandirian belajar yang tumbuh dari dalam jiwa anak, sehingga budaya literasi benar benar tertanam. Anak tidak harus menunggu perintah untuk disuruh dan dipaksa untuk membaca oleh guru, orang tua maupun orang lain.

Tugas ini bukanlah pekerjaan ringan. Bagaimana mungkin menanamkan budaya literasi kepada anak akan berhasil, sementara dalam dirinya sendiri belum tercipta budaya litersi. 

Guru seharusnya terus bergerak mencoba memantaskan dirinya dengan kemajuan jaman dengan selalu mengupdate ilmunya dengan terus belajar dan belajar. 

Bukankah pendahulu kita Nabi Besar Muhammad SAW, kurang lebih 1400 tahun yang lampau telah memberi contoh suri tauladan yang baik kepada kita bahwa: Uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi,"Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat". Dalam riwayat lain disebutkan "Uthlubul ilma walau bishshiin". Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.

Belajar dalam hal ini, bukan belajar dalam pengertian formal melanjutkan pendidikan sampai memperoleh sederet gelas master, tetapi belajar dalam pengertian yang luas. Belajar bisa dari pengalaman, belajar bisa dari pergaulan, belajar bisa dengan cara membaca dan menulis dan lain sebagainya.

Karena kita bergerak dalam dunia pendidikan, yang notabebene pendidikan karakter merupakan pendidikan yang utama, maka tidak boleh tidak kita yang harus terlebih dahulu bisa memberikan suri tauladan budaya atau karakter yang baik yang bisa menginspirasi anak didik kita. Kalau hanya transfer of knowledge yang diutamakan, bukan saatnya lagi untuk itu, karena mbah Google sudah lebih pintar dari kita saat ini.

Transfer of Character inilah yang perlu terus kita upayakan kepada anak didik kita, agar anak bisa terinspirasi, sehingga spiritnya nanti anak bisa bergerak sendiri atas kemauannya sendiri untuk mempertajam bakat, minat dan kemampuan dirinya sendiri tanpa harus disuruh dan dipaksa oleh gurunya.

Ibarat sebuah cahaya, anak sudah memiliki cahaya itu. Hanya saja cahaya itu ada yang redup, samar-samar, terang dan sangat terang. Tugas kita sebagai guru adalah bagaimana menghidupkan sumber cahaya itu menjadi potensi yang dapat membakar dirinya sendiri, sehingga menghasilkan cahaya yang terang benderang, berkilauan bak permata yang indah yang tidak saja berguna bagi dirinya sendiri tetapi juga berguna bagi orang lain.

Kita harus sadar bahwa ilmu itu seluas langit dan bumi. Kalau hanya Transfer of Knowledge, kita berhadapan dengan anak didik kita dibatasi oleh ruang dan waktu. Jika kita sebagai guru SD misalnya, paling lama bertemu dengan anak didik kisaran 6 tahun. Tetapi kalau kita bisa menginspirasi dengan transfer karakter, maka selamanya akan digunakan oleh anak, termasuk budaya literasi ini.

Tip Membangun Budaya Literasi di Sekolah.

Tip untuk Siswa.

Bagaimana caranya Membangun Budaya Literasi ini di Sekolah khususnya Sekolah Dasar, soal teori tentu andalah yang lebih pakar. Hanya saja ada satu tip dari sekian banyak cara yang mungkin bermanfaat untuk anda, untuk bisa diterapkan dalam pembelajaran karena saya juga adalah berangkat dari seorang Guru SD. Cara-cara atau tip lain tentu banyak, dan itu juga perlu dicoba.

Pada materi pembelajaran kelas III SD ada materi membuat buku harian. Anak diminta untuk menulis kegiatan harian mereka baik dirumah maupun di Sekolah. Mapel ini jangan hanya dibuat menjadi sebuah mapel untuk kepentingan sesaat atau untuk kepentingan pembelajaran, untuk kepentingan penilaian saja. Tetapi harus terus ditindaklanjuti bahkan pada jenjang-jenjang berikutnya. Soal tehnis tentu andalah yang lebih jago. 

Tujuannya adalah agar anak memiliki kebiasaan menulis buku harian, untuk melatih, mengasah  kemampuan literasi anak sehingga anak memiliki kebiasan menulis. Kebiasaan menulis buku harian ini nantinya akan berkembang dengan sendirinya. Anak akan  mampu mengekspresikan kemampuan menulisnya dalam bentuk yang lain, seperti menulis puisi, cerpen dan karya tulis lainnya.

Kebiasaan menulis ini pasti nantinya akan dibarengi dengan kebiasaan membaca, karena menulis dan membaca adalah dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan.

Tip untuk Guru.

Soal tehnik mengajar bagi guru tentu tak perlu dibahas lagi, karena saya yakin guru sudah jago dalam soal teori dan praktek atau bahkan sudah berpengalaman bertahun-tahun. Tetapi mungkin ada satu tip yang mungkin terlupakan atau jarang digunakan. Bagi yang sudah melaksanakan, tip ini bisa diabaikan. Bagi yang belum, mungkin bisa dicoba.

Mulailah mengajar dengan bercerita kepada anak. Cerita yang mengandung hikmah dan motivasi. Cerita tentu saja yang ada kaitannya dengan materi pembelajaran. Tip ini sepertinya mudah tetapi mungkin sulit untuk dipraktekkan. 

Persoalannya adalah guru setidaknya harus punya banyak perbendaharaan cerita yang bisa menjadi alternatif untuk disampaikan pada anak. Cerita dapat berupa cerita fiksi, dongeng, legenda, sejarah maupun cerita kejadian yang nyata.

Keharusan untuk memperbanyak perbendaharaan cerita ini menuntut guru untuk terus mencari dengan mengintenskan membaca banyak buku atau sumber-sumber bacaan lain yang saat ini banyak tersebar di internet atau dunia maya.

Dengan begitu kebiasaan membaca ini secara tidak disadari secara pelan dan pasti akan membangun dirinya sendiri menjadi seorang yang memiliki budaya literasi atau literer. Budaya Literasi ini tentu akan berguna bagi dirinya, lebih-lebih bagi muridnya. Dari cerita-cerita itulah nanti murid akan terinspirasi dan menggugah jiwanya untuk terus mengobarkan semagat belajarnya dalam setiap jenjang pendidikan sehingga tercapai cita-citanya kelak dikemudian hari.

Bukan tidak mungkin, kebiasaan membaca dan bercerita ini nantinya akan dibarengi dengan kebiasaan lain, jika ada kemauan dan mau memulai yaitu dengan menulis. Jika dua hal ini berjalan bersamaan, budaya literasi sudah tertanam dalam jiwanya, maka bukan tidak mungkin akan lahir guru-guru baru yang akan menjadi penulis-penulis yang handal.

Program Asesmen Nasional

Kesadaran akan petingnya budaya literasi ini kemudian diwujudkan lagi oleh pemerintah dengan program "mengganti" Ujian Nasional ( UNBK ) menjadi Asesmen Nasional ( UBKD ). Pemerintah menyadari bahwa akar rumput persoalan literasi harus dimulai dari anak sebagai generasi penerus yang diharapkan nanti mengganti generasi tua yang sudah sulit diubah menjadi generasi yang literer.

Salah satu upaya untuk menyukseskan Asesmen Nasional ini, maka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuat sebuah Program Guru Belajar seri AKM melalui Portal Web: https://gurubelajar.kemdikbud.go.id/#beranda, dimana salah satunya adalah bagaimana agar guru, Kepala Sekolah dan Pengawas paham tentang Asesmen Nasional ini.

Baca juga:

Kita tahu bahwa konsep Asesmen Nasional salah satunya adalah untuk mengukur kemampuan dasar siswa dalam soal Literasi dan Numerasi, sebagai bentuk pembaharuan paradigma pendidikan di Indonesia.

Konten pembelajaran siswa tidak lagi mengacu kepada kemapuan kognitif semata, tetapi bagaimana kemampuan literasi dan numerasi ini nanti berguna bagi anak untuk memecahkan persoalan-persoalan kehidupan anak agar sukses dalam kehidupan bermasyarakat.

Perubahan paradigma ini harus mampu diimplementasikan oleh guru didalam kesehariannya untuk  melaksanakan strategi pembelajaran yang mengacu pada kemampuan untuk mengasah kompetensi dasar literasi dan numerasi ini, sehingga terbangun Budaya Literasi di Sekolah.

Jika Budaya Literasi ini benar-benar terwujud, maka harapan Indonesia untuk menjadi bangsa yang memiliki tingkat minat baca yang tinggi akan terwujud. Indonesia tidak akan lagi berada pada peringkat terendah kedua di dunia sebagaimana hasil penelitian diatas. Indonesia akan menjadi sebuah negara maju dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang tinggi dan tingkat minat baca yang tinggi pula. Wallahu a'lamu.

Demikianlah sekelumit tentang Membangun Budaya Litersasi di Sekolah dengan harapan semua guru mampu mengemban tugas ini, dengan memulai dari dirinya sendiri untuk membangun budaya litersi dan numerasi sehingga menjadi guru yang bisa memantaskan dirinya untuk bisa di gugu dan ditiru oleh anak di Sekolah

Semoga bermanfaat. Artikel ini jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang konstruktif kami harapkan di kolom komentar untuk kebaikan, sampai jumpa pada postingan selanjutnya.

Sumber:
:https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media#
Nur Hakim
Nur Hakim Fokus adalah salah satu kiat untuk sukses

5 comments for "Membangun Budaya Literasi di Sekolah."

  1. Replies
    1. Makasih atas kunjungan dan dukungannya bos Arkas. Bisa dicoba di Sekolah untuk membiasakan anak dan guru membaca dan menulis😊

      Delete
  2. Mabruk bang haji, lanjutkan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih Ustad...smg bisa tetap berkarya dan istiqamah dalam kebaikan... 😊

      Delete