Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bingung Menulis, Maka Menulislah! Fakta atau Mitos ?

Trulli

S aat ini saya tidak punya ide untuk menulis, tetapi saya mempunyai keinginan untuk menulis. Ada sebuah ungkapan yang pernah diucapkan oleh Stephen King, seorang Penulis Amerika Serikat:

"Menulis merangsang pemikiran, jadi saat anda tidak bisa memikirkan sesuatu untuk di tulis, tetaplah mencoba untuk menulis"

"Kita tidak harus menunggu datangnya inspirasi itu, kita sendirilah yang menciptakannya"

"Ketika seorang penulis hanya menunggu, maka sebenarnya ia belum menjadi dirinya sendiri"

Saya ingin membuktikan ungkapan diatas apakah benar demikian adanya. Disaat tidak ada sesuatu yang dipikirkan untuk ditulis, tetaplah berusaha untuk menulis. Kata-kata ini memicu saya untuk memulai menulis,  walaupun saya tidak tahu apa yang harus saya tulis. 

Dalam benak saya, untuk menulis apa yang saya ketahui saja, rasanya sulit harus mulai darimana, arahnya kemana dan harus berahir dimana. Apalagi yang tidak saya ketahui, tidak ada ide, tidak punya gagasan baru. Judulnya saja saya tidak tahu, tetapi saya ingin menulis.

Pengalaman saya ini mungkin juga dialami oleh teman-teman yang punya blog atau website atau mungkin juga dialami oleh penulis-penulis yang sudah handal sekalipun, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Stephen King diatas. 

Pada awalnya begitu semangat untuk menulis, dengan membuat postingan di blog atau website. Tetapi seiring berjalannya waktu,  semangat itu kemudian melemah yang ditandai dengan dibiarkannya blog atau website nongkrong tanpa pernah ada update postingan yang baru lagi. Apakah ini yang dinamakan fenomena kehilangan ide dan gagasan?

Sepintas menulis memang terlihat mudah. Mudah mungkin bagi yang ingin mau memulai. Banyak tip cara menulis yang sudah diketahui, banyak ide dan gagasan dalam pikiran yang ingin ditulis, banyak kejadian dalam keseharian kita yang bisa ditangkap untuk bisa dijadikan sebagai bahan untuk membuat sebuah karya tulis, tetapi sepanjang kita tidak mau memulai, maka tulisan kita tidak akan pernah muncul.

Setiap orang sudah pasti memiliki kemampuan dan kelebihan masing-masing yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. Kemampuan itu bisa berupa pengetahuan dibidang pendidikan, sejarah, filsafat, politik, pertanian, peternakan, perikanan, kesehatan, agama, seni musik, seni tari, seni lukis dan banyak cabang keahlian lainnya.

Karena setiap orang punya kemampuan dan keahliannya sendiri-sendiri, maka sebenarnya setiap orang punya potensi untuk menjadi penulis sesuai dengan latar belakang pengetahuannya.

"Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri" Kata J.K. Rowling, penulis novel Harry Potter.

Jika kata-kata J.K. Rowling diatas diikuti, sebenarnya tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak bisa menulis, karena pengetahuan sudah kita miliki. Pengalaman kita sudah punya. Menulis terasa sulit karena kita tidak pernah mencoba untuk memulai dan ketika sudah mulai menulis, jangan pernah berhenti atau menyerah sebelum artikel selesai.

Ini bukan berarti sekali waktu postingan harus jadi, tetapi untuk tahap pemula atau tahap awal mungkin butuh waktu beberapa jam, hari atau bahkan beberapa minggu, tergantung jenis tulisan yang kita buat. Kalau hanya sekedar untuk membuat postingan di blog atau website yang memang cenderung relatif pendek, mungkin tidak butuh waktu lama untuk menulis, apalagi isi tulisan sudah kita ketahui dan pahami serta berangkat dari pengalaman pribadi.

Berbeda halnya jika artikel yang akan ditulis mengambil tema diluar jangkauan zona keilmuan kita. Tetapi selama kita punya ide, inspirasi dan kemauan yang kuat untuk memahami, segala kendala pasti bisa diatasi. Caranya, kita bisa belajar dulu dengan mencari tahu dari berbagai sumber bacaan yang saat ini sudah begitu mudah, sambil menulis dan membaca, maka artikel pasti akan bisa diselesaikan.

"Berjuang, menangis, dan gigihlah menulis. Dan jangan lupa mencintainya, bahkan ketika tulisan kalian mulai menghasilkan"

Mungkin inilah yang kurang dalam diri kita, kita kurang berjuang, kurang gigih, apalagi menangis, boro boro sampai mencintainya. Salah satu filosofi dasar menulis adalah Menulis untuk memahami, bukan untuk dipahami. Jika kita kurang mengerti terhadap sebuah persoalan, maka menulislah agar bisa paham.

Lantas apa yang menjadi penyebab kita sulit menulis. Mari kita identifikasi bersama mungkin ini penyebabnya.

Terbiasa di Zona Nyaman.

Kebiasaan kita yang cenderung tidak mau keluar dari zona nyaman, mungkin ini yang menjadi penghalang untuk mencoba hal-hal baru yang penuh tantangan termasuk dalam hal menulis. Menulis termasuk kegiatan menciptakan sesuatu.

Dalam proses mencipta apapun itu, dibutuhkan kreatifitas, totalitas, kemauan yang keras dan fokus sehingga menghasilkan sesuatu yang baru. Bukankah " menulis " adalah mencipta sesuatu yang baru?. Dari halaman kosong menjadi menjadi halaman yang penuh dengan oretan pena. Dari yang tidak ada menjadi ada, dari satu kata terangkai menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf dan seterusnya sehingga menjadi sebuah karya tulis.

Barangkali ini sedikit berlebihan kalau saya kaitkan dengan seorang tokoh, tetapi itu adalah hak anda untuk menilai. Seorang Napoleon Bonaparte, seorang Kaisar, seorang pemimpin militer dan politik Prancis, Tokoh Revolusioner yang mungkin namanya sudah tak asing bagi kita walaupun dia hidup 200 tahun yang lampau. Dia pernah berkata: "Aku lebih takut dengan seseorang yang memegang pena (penulis) dari pada prajurit yang bersenjatakan lengkap".

Begitu pentingnya nomenklatur "menulis" tetapi fakta berbicara, menulis masih menjadi momok yang seringkali dihindari untuk dilakukan. Banyak mahasiswa gagal karena persoalan skripsi. Banyak dosen yang sulit untuk naik pangkat karena persoalan karya tulis. Banyak guru, kepala sekolah dan pengawas gagal naik tingkat karena karya tulis ilmiah. Pada banyak hal karya tulis ilmiyah seringkali harus membeli untuk melengkapi sebuah persyaratan tertentu dan ini adalah fakta bukan mitos.

Kurangnya Minat Baca.

Fakta lain yang nampak jelas pada kita, sehingga berpengaruh terhadap kemampuan menulis adalah kurangnya minat baca. Kemapuan menulis tergantung seberapa besar minat dan intensitas kita dalam membaca.

Pada saat kita membaca, memori kita merekam bacaan tanpa kita sadari. Rekaman itu ada didalam bawah sadar kita, sehingga pada saatnya diperlukan akan muncul dengan sendirinya pada saat kita berbicara maupun saat kita menulis.

Kemampuan kita berbicara bisa terlatih, disamping kita harus punya wawasan yang memadai dengan membaca dan memiliki pengalaman lapangan yang cukup, kita harus banyak aktif di organisasi sosial kemasyarakatan, pemerintahan atau politik atau forum-forum lainnya.

Kemampuan menulis akan terlatih, disamping kita punya koleksi bacaan yang memadai dari berbagai disiplin ilmu, apalagi ditambah dengan pengalaman-pengalaman yang cukup, baik aktif melalui oraganisasi maupun forum-forum seperti diatas, maka tak ada jalan lain kecuali harus mengasah kemampuan itu dengan menulis, menulis dan menulis.

Kurang bisa memanfaatkan waktu luang/leisure time

Kelemahan kita yang lain disamping minat baca yang kurang, kita suka memilih bacaan yang menurut kita menarik. Kita sering suka berlama-lama memilih, memilah buku yang menarik untuk dibeli dan dibaca. Pada media-media cetak maupun elektronik, kita suka membaca jika judul bacaan menarik dan mengabaikan jika judul bacaan tidak menarik, sehingga terkadang kita sering tertipu dengan judul bacaan yang bombastis ternyata isinya tak lebih hanya sebatas judul tanpa makna.

Mungkin kita perlu mencontoh kebiasaan orang barat, jika dalam sebuah perjalanan, ingin mengisi waktu luang/leisure time dengan membaca, maka dia tidak akan memilih judul bacaan yang ia temui. Dia tidak perlu berlama-lama harus memilih judul buku, tetapi dia langsung membeli buku apa saja yang dia pegang tanpa mempedulikan judulnya menarik atau tidak, sehingga waktu luang tidak terbuang sia-sia.

Filosofinya sederhana, dengan membaca, maka kita akan memperoleh ilmu dan membuka khasanah wawasan keilmuan kita. Dunia amat luas dan ilmupun seluas langit dan bumi. Maka sumber bacaan bisa dari mana saja dan dari siapa saja. Seorang ahli matematika, tidak harus menutup pintu belajar ilmu yang lain. Seorang ahli agama, tidak harus menutup pintu untuk belajar ilmu agama lain, begitu juga ahli-ahli yang lain.

Membaca dan menulis adalah dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Begitu susahnya untuk mencetak kebiasaan menulis, sehingga pemerintah melalui Kemendikbud pernah mengeluarkan peraturan untuk menambah SKS ( Satuan Kredit Semester ) bagi Perguruan Tinggi program Magister ( S2 ) dari yang semula 36 SKS menjadi 72 SKS. 32 SKS untuk materi perkuliahan, sedangkan 40 SKS untuk Thesis, Seminar dan Karya Tulis Ilmiah. (Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi.).

Dalam perkembangan selanjutnya hingga saat ini, telah tiga kali mengalami perubahan dengan keluarnya Permendikbud Nomor: 3 tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, dengan mencabut dan mengganti: 

Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1952); dan

Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 50 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Riset,Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 1496).

Pada Permendikbud Nomor: 3 tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, ditetapkan untuk program Magister atau Pasca Sarjana (S2) paling sedikit 36 SKS dengan waktu paling lama 4 tahun. Sedangkan untuk Program Doktor paling sedikit 42 SKS, dengan waktu paling lama 7 tahun.

Kalau kita mau jujur, seharusnya program ini tidak harus dimulai dari Program Pasca Sarjana (S2), tetapi harus sudah dimulai dengan mengintegrasikan kedalam kurikulum mulai dari tingkat Sekolah Dasar . 

Harus diakui bahwa sistem pendidikan yang kita jalankan saat ini masih ambigu. Khususnya untuk tingkat Sekolah Dasar dan Menengah, masih belum sepenuhnya mendukung anak atau siswa untuk mengeksplor lebih dalam tentang kemampuan menulis. Ini bisa terlihat dari bentuk asesmen yang lebih mengedepankan kemampuan daya ingat daripada kemampuan daya nalar.

Kiranya tak perlu berpanjang kalam, khawatir saya tambah bingung dan andapun semakin bingung membacanya jika tulisan ini terlalu panjang. Tetapi yang pasti  jika anda bingung mau menulis apa, maka menulislah. Pada saat anda sedang menulis akan muncul dari bawah sadar anda, apa yang pernah anda baca dan alami. Ibarat kran air jika tidak diputar maka air tidak akan mengalir.

Ternyata walaupun awalnya saya bingung harus menulis apa, pada akhirnya  saya bisa menyelesaikan tulisan ini, walaupun judul dan isinya baru saya ketahui setelah hampir selesai saya menulis. Bisa jadi postingan ini antara judul dan isi tidak sesuai, karena sejak awal sudah saya katakan, saya tidak tahu apa yang harus saya tulis, tetapi saya ingin menulis. 

Mungkin andalah yang lebih tahu judulnya dengan tepat dan kesesuaian isinya. Ibarat orang nonton pertandingan sepak bola, biasanya penonton lebih pintar dari seorang pemain, sekalipun pemain itu sekaliber Lionel Messi, Maradona dan Pele. Lagi- lagi ini fakta, bukan mitos.

Semoga bermanfaat dan menginspirasi. Tulisan ini jauh dari sempurna, karena memang berangkat dari kebingungan, untuk itu jika ada saran dan kritik yang konstruktif, saya harapkan mengisi di kolom komentar untuk kebaikan... sampai jumpa pada postingan berikutnya.

Nur Hakim
Nur Hakim Fokus adalah salah satu kiat untuk sukses

Post a Comment for "Bingung Menulis, Maka Menulislah! Fakta atau Mitos ?"