Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sepenggal Bukti Sejarah Yang Tersisa Dari Pangeran Wirabaya.

Pintu Gerbang Keraton Parsanga ( Foto by Hakim)

K etika anda berjalan-jalan kearah timur laut Kota Sumenep, kurang lebih 3 km dari pusat kota Sumenep, anda akan sampai di Desa Parsanga. Ada sepenggal bukti sejarah yang tersisa, yang hampir tergusur oleh pembangunan. Oleh masyarakat setempat keberadaannya tetap dipertahankan.

Itulah Pintu Gerbang Keraton peninggalan Pangeran Wirabaya, Raja Sumenep yang pernah berkuasa 5 abad yang lampau. Keraton yang semula ada di Gapura saat Raden Arya Wigananda berkuasa, dipindah ke Desa Parsanga oleh Pangeran Wirabaya ketika naik tahta.

Ada beberapa versi penyebutan tentang nama Pangeran Wirabaya. Ada yang menyebut dengan Pangeran Wonoboyo. Tetapi yang paling populer adalah sebutan Pangeran Siding Purih.

Siapa Pangeran Wirabaya ?

Pangeran Wirabaya adalah Raja Sumenep yang ke 15, menggantikan mertuanya Raden Arya Wigananda putra Pangeran Joktole bin Adipodai. Dari garis bapak, dia adalah putra Arya Banyak Mondang bin Arya Banyak Wedi bin Adipodai.

Kita tahu bahwa Adipodai adalah suami Raden Ayu Potre Koneng, putri seorang raja Banasare R. Agung Rawit yang melegenda dengan kecantikan dan kerupawanan wajahnya. Sehingga tidak heran kalau Arya Wirabaya juga dikenal sebagai seorang raja yang perkasa, tampan dan rupawan.

Karena ketampanannya itulah oleh masyarakat saat itu, dia mendapat julukan Pangeran Sumenep. Tetapi siapa sangka ketampanannya itu kelak dikemudian hari membawa petaka bagi dirinya dan pemerintahannya.

Dia memerintah Sumenep dari tahun 1502-1559. Pada waktu Pangeran Wirabaya berkuasa, terjadi pergantian kekuasaan di Jawa. Kerajaan Majapahit dengan Raja Prabu Brawijaya takluk terhadap Kerajaan Demak dengan Raden Patah sebagai Rajanya. Raden Patah adalah putra dari Prabu Brawijaya sendiri dari selir. Dengan terjadinya pergeseran kekuasan, maka Sumenep dengan sendirinya juga ikut menjadi bawahan Kerajaan Demak.

Pada masa kerajaan Majapahit masih berkuasa, untuk wilayah utara dan timur pulau Jawa termasuk Madura, diserahkan kepada putrinya Raden Ayu Maskumambang, dengan pusat pemerintahan di Japan (Mojokerto sekarang).

Setelah Raden Patah naik tahta, kekuasaan adiknya tetap dipertahankan, bahkan putranya yang bernama Raden Arya Kanduruan diangkat sebagai patih di Japan, yang kelak dikemudian hari dia menjadi penguasa Sumenep meggantikan Pangeran Wirabaya atau Pangeran Siding Purih.

Pangeran Siding Purih.

Saat ini masyarakat hampir tidak lagi mengenal nama Pangeran Wirabaya. Dia lebih dikenal dengan nama Pangeran Siding Purih. Pemberian gelar Pangeran Siding Purih ini terjadi pada tahun 1559 ketika sebuah peristiwa tragis bersama pasukannya terjadi.

Kisahnya diawali saat Pangeran Wirabaya bersama rombongan menyerahkan upeti ke Japan. Sebuah acara tahunan jaman dulu yang biasa dilakukan oleh raja taklukan kepada raja atasan yang berkuasa.

Raden Ayu Maskumambang yang masih bujang tertarik akan ketampanan Pangeran Wirabaya. Saat pandangan pertama dia langsung jatuh cinta dan menginginkan Pangeran Wirabaya untuk menjadi pendamping hidupnya. Tetapi Pangeran Wirabaya tidak langsung menerima pinangan itu. Dia sudah memiliki seorang istri dan 3 orang putri.

Secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ratu dia pulang ke Sumenep. Merasa cinta tak terbalas, gengsi sebagai seorang Ratu yang berkuasa penuh merasa diabaikan, dia murka kepada Raden Wirabaya. Diutuslah kemudian keponakan sekaligus patihnya Raden Arya Kanduruan beserta pasukannya untuk membawa Pangeran Wirabaya kembali menghadap Ratu, hidup atau mati.

Ketika sampai di Bangkalan Raden Arya Kanduruan dan pasukannya beristirahat. Untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah, maka dikirimlah utusan agar Pangeran Wirabaya datang menghadap dan memenuhi pinangan Ratu.

Tetapi tawaran itu tetap ditolak, utusan kembali ke Bangkalan dengan tangan hampa, bahkan pangeran Wirabaya menyatakan siap berperang dengan Ratu Japan.

Perang antara Sumenep VS Japan

Setelah tidak ada lagi jalan damai, maka dikumpulkanlah pasukan Raden Arya Kanduruan yang dibawa dari Japan dan pasukan-pasukan kerajaan kecil di Bangkalan, sehingga terbentuklah pasukan dalam jumlah besar untuk bersama-sama berangkat ke Sumenep.

Raden Wirabaya mempersiapkan pasukannya dengan menyambut pasukan gabungan dari Japan diluar kota di Desa Poreh Kecamatan Lenteng. Terjadilah pertempuran sengit antar dua pasukan. Raden Wirabaya turun langsung ikut dalam pertempuran. Raden Wirabaya akhirnya terluka parah dan meninggal di tempat.

Kepalanya kemudian dipenggal dan dibawa ke Japan sebagai barang bukti.Badan tanpa kepala dibawa ke keraton dan dimakamkan di Desa Bangkal Kecamatan Kota Sumenep. Sebagian anggota badan yang tertinggal di desa Poreh oleh masyarakat setempat dimakamkan juga di Poreh, sehingga perabuan Pangeran Wirabaya ada dua, yaitu di Desa Bangkal dan di Desa Poreh.

Itulah sebabnya mengapa Pangeran Wirabaya diberi gelar anumerta dengan nama Pangeran Siding Purih ( Seda ing Poreh = meninggal di Poreh ) pada tahun 1559 Masehi.

Untuk mengisi kekosongan Pemerintahan di Sumenep, maka ditugaslah Raden Arya Kanduruan untuk memimpin Sumenep dengan pangkat Tumenggung. Dia menjadi pemimpin di Sumenep yang ke 16 dari tahun 1559-1562

Sebagai bentuk penghargaan untuk mengabadikan namanya, tempat perabuan Pangeran Wirabaya di desa Bangkal diberi nama Kampung Siding Purih. Namanya pernah diabadikan pada nama sekolah "SDN Siding Purih" yang sekarang kita kenal dengan nama SDN Bangkal.

Itulah kisah perjuangan Pangeran Wirabaya mempertahankan harga diri keluarga dan pemerintahannya yang berahir tragis.

Kini bukti sejarah peninggalan Pangeran Wirabaya hanya tinggal Pintu Gerbang Keraton, selain makam yang ada di kampung Siding Purih Desa Bangkal dan Desa Poreh Kecamatan Lenteng.

Makanya ketika ada pembangunan jalan lingkar utara Sumenep, mulai dari Desa Kebunan melintas sampai Desa Parsanga, kemudian berahir di pintu Gerbang Keraton Parsanga, oleh masyarakat sekitar diunjuk rasa. Karena sepenggal bukti sejarah itu akan di gusur untuk kepentingan pelebaran pembangunan jalan.

Untuk sementara bukti sejarah itu masih bisa dipertahankan. Jalan yang begitu lebar mulai dari Desa Kebunan sampai pada Pintu Gerbang Keraton Parsanga menjadi sempit.

Kini tinggal waktu yang akan berbicara, apakah bukti sejarah yang hanya tinggal secuil itu akan dipertahankan atau pada saatnya nanti akan tergusur seiring waktu dan kemajuan jaman. Wallahu a'lam bish shawab.

Nur Hakim
Nur Hakim Fokus adalah salah satu kiat untuk sukses

Post a Comment for "Sepenggal Bukti Sejarah Yang Tersisa Dari Pangeran Wirabaya."