Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Prospek Transportasi Udara Sumenep - Kangean

Bandara Trunojoyo Sumenep. (Foto: Budi Haryono)

K abupaten Sumenep terletak di ujung timur pulau Madura. Luas wilayah 2.093,45 km² dengan populasi penduduk 1.041.915 jiwa menyebar dihamparan daratan dan kepulauan. Luasnya wilayah dan banyaknya penduduk yang tersebar di daratan dan kepulauan mengharuskan Sumenep untuk segera melakukan diversifikasi angkutan umum baik darat, laut maupun udara.

Salah satu yang mendesak untuk segera dilakukan adalah transportasai udara. Mobilitas penduduk yang tinggi, ditandai dengan semakin meningkatnya kegiatan sosial ekonomi masyarakat antar pulau menuntut mereka untuk segera bergerak cepat. Mobilitas ini didukung dengan semakin mudahnya komunikasi, sejalan dengan perkembangan tehnologi informasi yang semakin maju.

Kabupaten Sumenep dikenal dengan kabupaten kepulauan. Ada 126 pulau yang tersebar, 48 pulau berpenghuni, 78 pulau tidak berpenghuni. Pulau-pulau besar dengan banyak penduduk dan jarak tempuh kurang lebih 100-165 mil dari pelabuhan Kalianget adalah Kepulauan Kangean dan Masalembu. Pulau besar lain dengan banyak penduduk adalah kepulauan Sepudi tetapi jarak tempuh dari kota Sumenep relatif dekat. Transportasi yang digunakan untuk menghubungkan antar pulau adalah transpotasi laut.

Trasportasi Laut

Selama ini transportasi antar pulau yang digunakan adalah perahu motor dan kapal laut. Perahu motor digunakan untuk menjangkau daerah-daerah terdekat dengan lama perjalanan kisaran 1-2 jam. Sedangkan Kapal Laut digunakan untuk transportasi dengan jarak tempuh 4-12 jam seperti ke Kangean dan Masalembu.

Daerah-daerah terjauh inilah yang perlu mendapat pelayanan transportasi udara. Terutama saat cuaca sedang tidak kondusif yang memaksa perjalanan laut seringkali dibatalkan karena cuaca buruk. Bukan hanya itu, dalam situasi normalpun masyarakat sudah menginginkan angkutan yang cepat dan nyaman. Kenyamanan dan kecepatan inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini walaupun costnya relatif mahal dan itu hanya bisa diperoleh dengan menggunakan transportasi udara.

Transportasi Udara.

Transportasi udara membutuhkan landasan pacu untuk menerbangkan dan menurunkan pesawat. Di Sumenep sendiri tercatat ada 4 landasan pacu pesawat yaitu 1 di Sumenep daratan dengan nama Bandara Trunojoyo, 3 lainnya tersebar di kepulauan yakni di pulau Masalembu, pulau Saor dan pulau Pagerungan Besar.

Bandara Trunojoyo.

Bandara Trunojoyo Sumenep adalah satu-satunya bandara komersial yang ada di Madura. Dibangun sejak tahun1970 saat Sumenep dipimpin oleh Bupati Soemar'oem dengan panjang landasan pacu 905 m. Dalam perjalanannya Bandara Trunojoyo mengalami pasang surut. Diawal-awal berdirinya pernah dijadikan tempat pemberangkatan Jemaah Haji dari Sumenep-Surabaya menggunakan pesawat kecil, setelah itu tak ada lagi aktifitas penerbangan.

Pada tahun 2010 terlihat mulai ada aktifitas dengan adanya sekolah penerbangan yang digunakan oleh Merpati Nusantara Airline. Pada tahun 2011 landasan pacu diperpanjang menjadi 1600 m. Baru pada tanggal 27 September 2017 secara resmi digunakan untuk penerbangan komersial dari Sumenep-Surabaya PP menggunakan pesawat Wings Air kapasitas penumpang 72 orang.

Selain penerbangan rute Sumenep-Surabaya, dibuka juga penerbangan rute Sumenep-Bawean dan Sumenep-Pagerungan. Untuk rute penerbangan Sumenep-Surabaya sejak pandemi covid-19 bulan Maret kemaren sementara terhenti. Tetapi untuk rute yang lain tetap ada penerbangan setiap hari rabu 1x dalam seminggu.

Bandara Masalembu

Bandara Masalembu lebih tepatnya dinamakan lapter (lapangan terbang) karena tidak ada fasilitas apapun kecuali landasan pacu pesawat. Lapter ini terletak di Desa Sukajeruk Kecamatan Masalembu dengan panjang landasan pacu kurang lebih 900 m. dan lebar 15 m Dibagun oleh Pertamina pada tahun 1967-1968 untuk kepentingan eksplorasi minyak lepas pantai di perairan Masalembu yang dimulai sejak tahun1960an.

Setelah beberapa tahun eksplorasi minyak terhenti, maka lapter ini kemudian ditinggalkan dan tak ada aktifitas lagi maupun pemeliharaan. Oleh masyarakat setempat saat ini lapter dimanfaatkan untuk jalan umum.

Pada kisaran tahun 2016 ada wacana landasan pacu pesawat ini akan dimanfaatkan untuk penerbangan perintis dari Sumenep-Masalembu PP, tapi hingga saat ini rencana itu masih belum terealisasi.

Bandara Saor

Pulau Saor adalah pulau kecil yang ada di selatan perairan Kecamatan Sapeken. Lapter di Pulau Saor ini senasib dengan lapter yang ada di Masalembu. Dibangun oleh Pertamina pada tahun 1970an untuk kepentingan ekplorasi migas. Pada tahun 1976 setelah eksplorasi minyak terhenti, oleh Pertamina kemudian ditinggalkan.

Menurut informasi dari warga luas lahan yang dikuasai oleh Pertamina, Panjang 1.800 m, Lebar 150 m. Saat ini lahan di sekitar lapter dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bertani. Kondisi lapter sendiri sebenarnya masih utuh hanya sebagian besar sudah tertutup tanah karena lamanya tidak ada pemeliharaan. Terbuat dari rabat beton dengan panjang landasan pacu kurang lebih 900 m, tanpa fasilitas apapun kecuali hanya landasan pacu pesawat. Jika Pemkab Sumenep punya kemauan, maka sebenarnya landasan pacu ini bisa dimanfaatkan kembali dengan menggali potensi yang masih banyak belum diekplorasi di pulau Saor dan sekitanya.

Bandara Pagerungan Besar

Bandara Pagerungan Besar ini memiliki panjang landasan pacu pesawat 915 m, lebar 30 m. Terletak di Pulau Pagerungan Besar, termasuk wilayah Kecamatan Sapeken bagian timur. Bandara ini dibangun bersamaan dengan dimulainya eksplorasi Migas pada tahun 1980an oleh perusahan bernama PT. ARCO Bali North Inc.(ABN) Hingga saat ini Bandara masih digunakan karena aktifitas eksploitasi Migas masih berlangsung. Sejak tahun 2007 hingga sekarang pengelolaan Migas di Pagerungan Besar dipegang oleh Kangean Energy Indonesia Ltd. (KEI).

Pada tanggal 25 September 2019 secara resmi Bandara Pagerungan Besar ini digunakan untuk penerbangan perintis dari Bandara Trunojoyo Sumenep ke Pagerungan Besar. Peresmian ini ditandai dengan penerbangan perdana yang diikuti oleh Bupati Sumenep A. Busyra Karim dengan pesawat Cessna Grand Caravan berkapasitas penumpang 10 orang tanpa garasi yang dikelola oleh Maskapai Penerbangan Susi Air.

Bandara Kangean ( Wacana)

Ada beberapa faktor yang menyebabkan Kangean punya prospek yang bagus untuk dibangun Bandara. Beberapa faktor yang mendukung itu antara lain:

1. Pulau Kangean terdiri dari 2 Kecamatan yaitu Kecamatan Arjasa dan Kecamatan Kangayan. Luas wilayah daratan pulau Kangean 188 km² dengan penduduk terbanyak diantara pulau-pulau yang lain disekitarnya.

2. Mobilitas penumpang dan barang dari pelabuhan Kalianget Sumenep-Kangean begitu tinggi. Transportasi hanya menggunakan kapal laut. Setiap hari pasti ada keberangkatan kapal penumpang dan barang, bahkan dalam satu hari bisa ada 2 kapal yang berangkat bersamaan dengan waktu yang berbeda.

3. Sejak tahun 2010 Kapal Bahari Express, kapal penumpang dengan kapasitas 241 tempat duduk senantiasa penuh dengan penumpang. Kapal ini dalam satu minggu 6 kali bolak balik dari Pelabuhan Kalianget-Batu Guluk Kangean dengan harga tiket perorang kurang lebih 200 ribuan. Harga tiket ini sudah mendekati harga tiket pesawat yang diperkirakan 200-300 ribu Sumenep-Kangean. Sebagai perbandingan harga, Sumenep-Pagerungan 245 ribu, Sumenep-Surabaya 260 ribu.

4. Banyaknya tenaga kerja Indonesia yang bekerja diluar negeri utamanya di Malaysia, banyak berasal dari Kangean dan sekitarnya. Ini juga merupakan potensi yang tak bisa diabaikan. Setiap tahun biasanya mereka mudik/pulang ke kampung halaman. Belum lagi dari sisi keuangan, pemasukan devisa untuk negara sehingga arus uang mengalir deras dari Malaysia kepada keluarganya yang ditinggal di kampung halaman.

4. Pulau Kangean menyimpan kekayaan alam yang besar, terutama minyak dan gas alam (migas). Ada puluhan titik yang belum di eksploitasi. Saat explorasi migas dilakukan antara tahun 1980-1990 setiap titik-titik yang ditemukan itu ditandai. Peta seismik perut bumi Kangean itu yang tahu hanya Pertamina. Menurut sumber-sumber lain yang layak dipercaya potensi lain selain migas yang belum dieksplorasi adalah batu phosphat dan emas. Belum lagi potensi alam lain yang belum dieksplor secara maksimal seperti melon dari Dusun Tembang Kangean.

5. Adanya wacana dan upaya pemekaran wilayah agar Kangean menjadi kota Kabupaten Kepulauan terpisah dari Sumenep sudah lama bergulir sejak tahun 2000an. Upaya ini kemudian diperkuat dengan adanya gerakan agar Madura menjadi Provinsi yang terpisah dari Jawa Timur. Salah satu syarat untuk bisa diusulkan agar bisa menjadi Provinsi Madura adalah terpenuhinya jumlah minimal 5 Kabupaten dalam satu Provinsi, sementara Madura kita tahu masih ada 4 Kabupaten yaitu Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan. Jika upaya ini berhasil maka Kabupaten Kepulauan Kangean ini menjadi Kabupaten ke 5 di Madura.

Jadi dapat disimpulkan bahwa jumlah penduduk yang besar, mobilitas penduduk yang tinggi, harga tiket pesawat yang terjangkau, banyaknya tenaga kerja yang bekerja diluar negeri, potensi kekayaan alam yang melimpah, dan kemungkinan menjadi Kabupaten Kepulauan adalah potensi yang sangat mendukung untuk segera dibangun Bandara di Pulau Kangean.

Upaya untuk mewujudkan adanya bandara di Kangean ini sebenarnya sudah lama. Sejak 5 tahun terakhir ramai dibicarakan wacana pembangunan lapter, mulai dari adanya beberapa kali survei kelayakan lokasi dari Dirjen Perhubungan sampai pada masalah pembebasan lahan. Tetapi hingga saat ini belum ada realisasinya. Semoga ke depan ada tindak lanjut sehingga Bandara Kangean benar-benar terwujud. Trasportasi Udara Sumenep-Kangean terealisai. Begitu juga dengan pulau-pulau lain di wilayah Kabupaten Sumenep. Komunikasi semakin lancar. Mobiltas sosial ekonomi masyarakat semakin tinggi, kesejahtraan semakin meningkat. Impian menjadi Kabupaten Kepulauan juga terwujud. Senyum kebahagian akan terkembang melingkupi 'Tanah Persada Nusantara'. Semoga bermanfaat....Aamiin.

Nur Hakim
Nur Hakim Fokus adalah salah satu kiat untuk sukses

Post a Comment for "Prospek Transportasi Udara Sumenep - Kangean "