Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MUDIK

Mudik dalam KBBI disinonimkan dengan istilah pulang kampung. Kata mudik berasal dari kata udik yang artinya hulu sungai. Kebalikan dari udik adalah ilir atau hilir yang artinya tempat berahirnya sebuah aliran sungai. Jadi mudik bisa diartikan kembali ke hulu atau ke daerah asal/kampung halaman.

Mudik biasanya dilakukan oleh masyarakat saat menjelang lebaran tiba setiap tahun. Bagi seorang perantauan mudik sebenarnya adalah hal yang biasa dilakukan. Adanya liburan khusus menjelang Hari Raya Idul Fitri bagi pelajar/santri, mahasiswa dan ASN atau swasta setiap tahun seakan merupakan kewajiban yang mengharuskan mereka untuk pulang ke kampung halaman.

Peristiwa tahunan ini menjadi seakan luar biasa setelah media cetak maupun Televisi memberitakan secara massif menjadi berita Headline selama satu minggu sebelum lebaran dan satu minggu sesudahnya. Ditambah lagi dengan pesatnya kemajuan penggunaan media sosial seperti Facebook, WA, Twitter, Instagram dll. membuat jagat raya menjadi heboh dengan berita mudik.

Beberapa tahun belakangan ini budaya mudik malah difasilitasi oleh Pemerintah dan lembaga non Pemerintah atau swasta dengan memberikan tiket gratis bagi para pemudik. Selama pandemi covid-19 pada musim Mudik Lebaran 2020 tak ada lagi mudik gratis yang ditawarkan baik oleh Pemerintah maupun Swasta. Mudik malah dilarang dan menjadi barang haram yang tak boleh dilakukan oleh ASN dan Pegawai BUMN dengan kewajiban share lokasi sebelum lebaran dan sesudah lebaran.

Polemik Pengertian Mudik dan Pulang Kampung

Jagat Raya kemudian menjadi semakin heboh dengan munculnya polemik perbedaan antara Mudik dan Pulang Kampung. Tidak tanggung-tanggung adalah Seorang Kepala Negara Bpk. Ir. Joko Widodo (Jokowi) Presiden RI dalam sebuah wawancara Ekslusif di Istana Merdeka pada tanggal 21 April 2020 yang disiarkan oleh Televisi swasta TRANS7, yang memunculkan perbedaan pengertian Mudik dan Pulang Kampung.Mudik identik pulang ke kampung halaman untuk sementara karena kepentingan lebaran, setelah selesai lebaran kembali lagi. SedangkanPulang Kampung indentik dengan pulang ke kampung halaman dan tidak kembali lagi ke kota atau perantauan.

Banyak kemudian yang pro dan kontra yang akhirnya menjadi polemik. Mudik dengan pengertian pulang sementara inilah yang dilarang oleh pemerintah selama covid-19 berlangsung. Sedangkan pengertian Mudik yang berarti Pulang ke Kampung halaman dan tidak kembali lagi diperbolehkan.

Namun dalam pelaksanaanya dilapangan, sulit dibedakan mana masyarakat yang Mudik dan mana masyarakat yang Pulang Kampung. Adanya batasan untuk bepergian dengan adanya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) diberbagai kota di Indonesia bagi masyarakat yang ingin mudik tetap berupaya mencari cara untuk lolos dari pengamatan petugas sehingga hal-hal yang lucu dan menggelikan banyak dijumpai dilapangan sebagimana yang sudah banyak terekspose di media sosial seperti menaikkan mobil keatas truk, bersembunyi didalam bagasi dll.

Alasan Mudik

Terlepas dari kontroversi pengertian Mudik dan Pulang Kampung, ada beberapa alasan seseorang untuk mudik.

*Pertama, Mudik karena ada kepentingan tertentu.Mudik ini biasanya dilakukan secara insidentil karena alasan tertentu, seperti adanya peristiwa kematian, perkawinan atau resepsi pernikahan dll dari kerabat dekat sehingga mengharuskan mereka untuk pulang kampung. Setelah urusan selesai bailik lagi ke perantauan.Ada lagi alasan mudik yang lagi ngetrend selama pandemi covid-19 yaitu mudik karena alasan kehilangan pekerjaan akibat PHK. Mudik ini biasanya cendrung untuk tidak kembali lagi.

*Kedua, Mudik karena kebiasaan. Bagi seorang perantauan, mudik atau pulang kampung adalah saat dan waktu yang selalu dinantikan. Bertemu dengan orang tua dan kerabat serta teman lama adalah saat yang menyenangkan dan selalu dirindukan. Mudik ini biasanya dilakukan secara periodik setiap mau lebaran tiba setiap tahun. Mudik inilah yang paling banyak menarik perhatian saat ini karena cenderung menjadi masalah, kemacetan lalu lintas, kecelakaan dalam perjalanan gangguan keamanan dll.

Dua alasan inilah yang biasanya mendorong seseorang untuk mudik. Tetapi tidak semua orang punya waktu dan kesempatan yang sama. Semakin jauh jarak tempuh dari kampung halaman semakin sulit punya waktu dan kesempatan untuk mudik. Lebih-lebih bilamana jarak tempuh masih harus menyeberangi lautan dan tak ada alternatif lain selain naik perahu motor atau kapal laut seperti penyeberangan antar pulau di Kabupaten Sumenep.

Wilayah Kabupaten Sumenep terdiri dari gugusan pulau-pulau besar dan kecil. Transportasi ke pulau-pulau kecil yang berdekatan biasanya cukup dengan perahu motor kecil dengan jarak tempuh 1-2 jam. Untuk jarak tempuh lebih dari itu seperti Sumenep-Kangean-Sapeken, Sumenep-Masalembu-Masakambing, Sumenep-Sepudi-Raas dan Jangkar yang jarak tempuhnya bervariasi antara 4-12 jam biasanya menggunakan kapal laut.

Bagi sebagian orang naik kapal laut bukanlah perkara mudah, terutama saat cuaca tidak kondusif. Angin yang kencang dan gelombang laut yang menggunung adalah musuh utama transportasi laut. Bagi orang perantauan atau orang pulau kondisi ini seperti menu makanan yang pasti tersaji setiap saat suka atau tidak.

Dilema Mudik/Pulang Kampung

Ada banyak persoalan yang harus dipertimbangkan sebelum seeorang memutuskan untuk mudik. Pertimbangan ini tentu saja bilamana keadaan dalam situasi normal. Pada situasi emergensi seperti saat ini dimana masa pademi covid-19 masih berlangsung maka sebaiknya keinginan mudik perlu dipikirkan kenbali. Adapun dilemma yang harus dipertimbangkan pemudik yang jauh dari kampung halaman adalah:

Biaya perjalanan (cost)

Pertimbangan pertama yang harus diperhitungkan adalah biaya perjalanan. Cost perjalanan tidak hanya soal harga tiket tetapi banyak komponen biaya lain yang harus dipersiapkan. Oleh-oleh berupa buah-buahan, sayuran dll sepertinya sebuah keharusan. Berbagi rejeki kepada sesepuh, sanak famili, keponakan, cucu dll ketika sampai di kampung halaman adalah bagian yang harus diperhitungkan. Cost lain-lain ini yang justru membuat biaya pulang kampung menjadi mahal. Bagi yang punya penghasilan lebih cost ini bukanlah persoalan, tetapi tidak semua orang punya kemampuan itu.

Transportasi

Tak ada banyak pilihan soal transportasi. Kapal laut yang berlayar sudah terjadwal setiap harinya. Jika kepulangan kita waktunya sudah diperhitungkan sesuai dengan kepentingan maka adanya kapal hari itu suka atau tidak suka kita harus naik kapal hari itu.

Sementara kondisi kapal yang berangkat setiap hari berbeda. Berbeda soal harga tiket, fasilitas, kecepatan dan kenyamanan dalam perjalanan.

Seperti kapal jurusan Kalianget- Kangean misalnya. Harga tiket perorang sekitar 200 ribuan dengan mengunakan kapal cepat dengan jarak tempuh 4 jam memiliki fasilitas yang lumayan, ada tempat duduk dan ruangan ber AC. Jika tidak dalam kondisi cuaca buruk maka naik kapal ini lumayan menyenangkan.

Untuk jenis kapal penumpang biasa, harga tiket di kisaran 100 ribuan dengan jarak tempuh 8-12 jam, tetapi kita harus siap-siap dengan fasilitas seadanya. Ada fasilitas tambahan berupa kasur perorangan, ruang VIP ber AC atau sewa kamar ABK dll. tetapi kita harus mengeluarkan biaya tambahan lagi dengan tarif yang berbeda.

Ada lagi jenis kapal laut bersubsidi dari Pemerintah yang dikenal dengan kapal Perintis atau Tol Laut dengan harga tiket murah. Jarak tempuh bisa lebih lama karena harus mampir ke pulau-pulau lain yang dilewati untuk menurunkan dan menaikkan penumpang.

Sebenarnya ada alternatif transpotasi lain yang bisa dikembangkan yaitu Transportasi Udara. Trasportasi ini masih sedang dirintis. Di Madura sendiri baru ada satu bandara yang sudah dibangun sejak tahun 1970an yaitu Bandara Trunojoyo Sumenep.

Dalam perkembangannya, baru sejak tanggal 17 September 2017 secara resmi dibuka penerbangan komersial dengan pesawat Wings Air dengan kapasitas penumpang 72 orang melayani Sumenep-Surabaya PP. Untuk melayani penerbangan antar pulau di Kabupaten Sumenep masih terkendala tidak tersedianya lapangan terbang di kepulauan Sumenep. Lapter yang ada dikepulauan semua adalah milik perusahaan migas yang bekerja sama dengan Pertamina yang digunakan untuk keperluan perusahaan itu sendiri.

Kurang lebih satu tahun terahir ini baru dibuka penerbangan perintis dari Sumenep-Pagerungan PP setiap hari rabu 1x dalam seminggu dengan pesawat kecil kapasitas 10 orang tanpa bagasi. Alternatif ini masih belum bisa menjawab kebutuhan orang yang ingin menyebrang dari Sumenep ke pulau Kangean, sebab jarak tempuh terlalu jauh dari Pagerungan ke pulau Kangean. Bagi masyarakat yang ada disekitar pulau Pagerungan Besar tidak ada masalah. Tetapi untuk masyarakat yang ada di pulau Kangean daratan justru semakin tidak efektif, disamping jarak yang jauh tadi juga akan menghabiskan cost yang tinggi.

Cuaca.

Dilema ketiga adalah cuaca. Kondisi cuaca adalah salah satu faktor penentu kenyamanan dalam pelayaran. Tetapi jika kondisi alam lagi kurang bersahabat maka fasilitas apapun yang tersedia menjadi tidak berarti.

Seringkali malah terjadi pembatalan atau penundaan keberangkatan kapal dengan batas waktu yang tidak pasti sampai kondisi cuaca normal kembali. Jika ini terjadi maka kerugian sudah pasti didepan mata.

Bagi calon penumpang yang ingin pulang kampung maka oleh-oleh yang sudah dibeli, siap-siap untuk dikonsumsi sendiri. Bagi penumpang yang tidak memiliki kerabat dekat maka selama penundaan harus siap-siap bermalam di penginapan atau hotel terdekat. Bagi pedagang waktu adalah uang, maka penundaan kapal adalah kerugian yang besar. Bisa jadi barang menjadi rusak atau dikenakan biaya tambahan penitipan barang di pelabuhan.

Jadi kesimpulannya adalah sebelum anda memutuskan untuk mudik atau pulang kampung pertimbangkanlah ketiga komponenini yaitu cost, transportasi, dan keadaan cuaca. Mudik kemudian menjadi dilema, mudik banyak persoalan yang harus dipertimbangkan, tidak mudik rindu kampung halaman. Sekali lagi, jika ini dalam situasi normal.

Demikianlah sekelumit persoalan mudik atau pulang kampung, semuga bermanfaat sampai jumpa di kampung berikutnya....😀😀😀

Lihat Video Mudik disini

Nur Hakim
Nur Hakim Fokus adalah salah satu kiat untuk sukses

Post a Comment for "MUDIK"