Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Melon VS Ayam Bekisar, Melintas Batas Cakrawala.

Tak dapat disangkal keberadaan buah Melon sebagai komoditas baru dari Dusun Tembang Desa Buddi Kecamatan Arjasa mulai merubah image masyarakat tentang pulau Kangean. Saat ini Melon Tembang Kangean tidak saja populer di Sumenep dan sekitarnya tetapi sudah mulai merambah keluar daerah dengan masuknya Melon di beberapa pusat perbelanjaan di kota besar seperti Surabaya, Jakarta dan daerah-daerah lain.

Melon Tembang Kangean dikenal manis dan empuk. Dari saking manisnya sampai sebagian masyarakat memberikan julukan baru 'Melon Madu' dari Kangean. Akankah Melon Tembang Kangean ini akan menyamai rekor pendahulunya yakni Ayam Bekisar yang pernah sangat populer dimasanya? Melon bisa jadi akan menjadi lawan tangguh kepopuleran Ayam Bekisar di masa depan.

Kilas balik Ayam Bekisar

Ayam Bekisar (Foto: wikimedia commons)

Pulau ini selama beberapa dekade dikenal sebagai Pulau Bekisar, pulau tempat penghasil Ayam Bekisar atau dikenal Bekisar saja ( masyarakat Kangean menyebut dengan "Begisar"). Kapan tepatnya Bekisar mulai ditemukan dan dibudidayakan tak ada literatur yang dapat dijadikan rujukan. Menurut cerita tutur masyarakat tersebutlah seorang "Pangeran Parajir" yang konon pertama kali menemukan, mengenalkan dan membudidayakan Bekisar. Jejaknya masih ada hingga saat ini berupa makam kuno yang berada di dusun Daandung Atas Desa Daandung Kecamatan Kangayan.(Lihat videonya disini)

Kepopuleran Ayam Bekisar ini kemudian diapresiasi oleh Gubernur Basofi Sudirman (1993-1998), Bekisar dijadikan Maskot Fauna Pemerintah Provinsi Jawa Timur hingga saat ini. Apresiasi itu ditunjukkan dengan instruksi menempatkan Bekisar lengkap dengan kurung (sangkar) didepan samping pintu masuk semua perkantoran Pemerintah dan upaya pelestarian ayam bekisar dengan pelatihan bagaimana beternak bekisar kepada generasi muda saat itu.

Dampak dari kebijakan ini kemudian membuat permintaan bekisar menjadi meroket. Sementara disisi lain ketersediaan bekisar (supply) tidak berbanding lurus dengan permintaan (demand). Upaya meningkatkan produksi dengan beternak Bekisar jauh berbeda dengan beternak jenis ayam biasa atau ayam jenis yang lain. Bekisar adalah hasil perkawinan silang antara Ayam Hutan Jantan (ayam alas) yang dikenal dengan nama 'Tarata' dengan Ayam Betina Kampung(lokal).

Mengawinkan Tarata dengan ayam betina memerlukan keahlian khusus. Tidak semua orang bisa melakukan walaupun misalnya Ayam Hutan sudah ada dan ayam betinanya juga sudah siap. Okelah soal cara dan ilmunya bisa dipelajari semua orang, tetapi Ayam hutannya mau dapat darimana. Ayam hutan hanya bisa diperoleh dengan berburu, menangkap hidup-hidup kemudian dipelihara dengan baik beberapa waktu lamanya sampai Tarata ini siap untuk dikawinkan.

Faktor lain yang ikut membuat semakin menurunnya produksi Bekisar dari Kangean adalah penggiat tarata ini jumlahnya semakin sedikit. Regenerasi tidak berjalan. Generasi berikutnya tidak lagi tertarik untuk melanjutkan pendahulunya berburu Tarata dan memeliharanya. Penyebabnya adalah disamping Tarata ini sulit didapat, cara pemeliharaanyapun sulit dilakukan. Biasanya pemelihara adalah pemilik tarata sekaligus menjadi ahlinya atau juru kawinnya.

Kendala lain yang menjadi penghambat produktivitas adalah semakin tahun Tarata ini keberadaanya di hutan Kepulauan Kangean semakin langka. Disamping terus diburu, salah satu penyebab lainnya adalah terjadinya pembalakan hutan yang intens oleh tangan2 yang tidak bertanggung jawab sehingga mengakibatkan kerusakan hutan yang serius. Penyebab lain yang tak kalah seriusnya adalah saat musim kemarau tiba sering terjadi kebakaran hutan akibat daun, ranting pohon banyak yang kering sehingga mudah tersulut api. Dampaknya adalah satwa yang seharusnya berkembang biak dengan baik dan aman menjadi terganggu habitatnya termasuk Tarata.

Di kepulauan Kangean sendiri, hanya ada 3 pulau besar yang mempunyai hutan yang didalamnya ada habitat 'tarata' yakni pulau Kangean sendiri, pulau Paleat dan pulau Sepanjang. Dua pulau terahir ini secara teritorial masuk wilayah administrasi Kecamatan Sapeken. Kelangkaan Tarata di tiga pulau ini kemudian memaksa penggiat Bekisar ini mencari Tarata ke daerah lain di 'Timur' yakni di Nusa Tenggara seperti pulau Sumbawa Lombok, Flores dll.. Di daerah ini Ayam Hutan termasuk jenis fauna yang dilindungi, sehingga bilamana hasil tangkapan ini diketahui pihak berwajib dibawa keluar daerah, maka pembawa akan ditangkap dan diproses secara hukum.

Untuk mengetahui lebih lengkap bagaimana memproduksi Bekisar mari kita ikuti bagaimana cara mengawinkan Tarata dengan Ayam Betina Kampung/Lokal.

Cara mengawinkan Tarata dengan Ayam Betina ala Kangean.

Proses Persiapan

* Ayam Alas hasil tangkapan dipelihara dengan baik sampai dia benar-benar siap untuk kawin. Namanya saja ayam hutan yakni ayam liar. Dia sulit ditundukkan. Perlu waktu adaptasi yang cukup dengan situasi baru. Ayam hutan takut dengan keberadaan orang sehingga ketika dalam kurunganpun harus ditutup dengan kain. Butuh kurang lebih 2 tahun untuk siap menjadi pejantan.

* Dipihak lain, ayam betinanya juga harus dipersiapkan. Mencari ayam indukan betina juga harus selektif. Pemilihan warna (bulu ayam) juga harus diperhitungkan sebab warna indukan sangat mempengaruhi hasil bekisar nanti. Persiapan dimulai saat ayam betina selesai menetas. Induk ayam harus dibuat steril dari ayam jantan kampung dengan cara memberi ' kathok ' terbuat dari batok kelapa yang digantung pada pangkal ekor ayam betina. Kondisi ini dipertahankan terus sampai anak ayam mulai besar dan pisah dengan induknya.

* Ayam betina yang ber' kathok' ini kemudian ditunggu sampai ayam bertelur. Ketika telur pertama keluar, saat inilah waktu yang tepat untuk dikawinkan dengan Tarata si Ayam hutan.

Pelaksanaan Perkawinan Silang

Pemilik tarata diundang kerumah pemilik ayam betina atau bisa sebaliknya pemilik ayam betina mendatangi pemilik Tarata, tergantung musyawarah atau kesepakatan. Waktu Pelaksanaan sebaiknya dilakukan di sore hari karena ayam bertelur biasanya paling lambat pukul 12.00 siang. Jika dilakukan sebelum itu dikhawatirkan sperma terdorong keluar kembali.

Tata caranya sebagai berikut:

1. Buat Lubang di tanah sebesar badan Ayam Kampung.

2. Kathok dilepas dulu dan cabut bulu-bulu di sekitar kloaka agar bersih sehingga nanti tidak menghalangi sperma untuk masuk.

3. Ikat kaki ayam lalu masukkan kedalam tanah sebatas dada sehingga yang terlihat adalah kepala dan ekor. Ikat ekor dan pastikan posisi menungging dengan bagian kloaka diatas.

4. Apit dada Ayam dengan kayu atau bambu dengan cara menancapkan bambu kedalam tanah. Ikat kedua sayap pada bambu yang mengapit dada agar ayam tidak bisa bergerak.

5. Tarata jantan yang sudah siap kawin dan Tarata betina disiapkan disekitarnya secara terpisah dikurung masing-masing. Tarata betina ini dibutuhkan untuk memancing birahi pejantan.

6. Setelah semua siap, Tarata betina diambil dari kurungnya dan dipegang.

7. Tarata betina kemudian diumpankan pada Tarata jantan sehingga tarata jantan menguber tarata betina yang masih dalam pegangan sambil mengarahkan Tarata jantan kearah ayam betina dengan menggeser kurung. Setelah pas diatas ayam betina, tarata betina kemudian dicabut sehingga Tarata jantan kawin dengan ayam betina. Pada prinsipnya tarata jantan hanya mau kawin dengan yang secufu dengannya. Tanpa pola seperti itu jangan diharap tarata mau kawin dengan ayam betina.

8. Setelah selesai ayam betina lokal dilepas dengan terlebih dahulu diberi 'kathok' kembali agar terhindar dan tetap steril dari ayam pejantan lain.

9. Untuk meningkatkan fertilitas, proses perkawinan dapat diulang lagi setelah 1 minggu berikutnya. Sperma mampu bertahan hidup 2-3 minggu didalam alat kelamin betina. Semakin lama kemampuan sperma membuahi ovom semakin menurun. Waktu pembuahan yang baik adalah 1 s/d 10 hari setelah perkawinan.

10. Ayam betina kemudian melanjutkan kesehariannya bertelur sampai selesai, biasanya masa bertelur 20 hari. Kemudiam mengeram selama 21 hari dengan harapan nanti setelah menetas menjadi bekisar jantan. Sebab hanya bekisar jantan yang bisa bercukir dan punya nilai jual yang tinggi, sedangkan bekisar betina tidak.

Jadi bisa anda bayangkan untuk menghasilkan bekisar ini begitu panjang dan berliku prosesnya. Dalam satu periode ini kadang belum tentu berhasil. Telur tidak mau menetas atau hasilnya betina semua, maka diulang lagi dilain waktu dengan proses yang sama. Tehnologi pengeraman lain juga tidak bisa diterapkan karena jaringan listrik saat itu belum ada.

Pendatang Baru dari Bali

Banyaknya permintaan dan terbatasnya persediaan menyebabkan pasar mencari jalannya sendiri. Belakangan selain Kangean, peternak dari Bali ternyata juga sudah lama berhasil mengembangkan komoditas bekisar ini, hanya saja pasar belum meresponnya secara positif. Para pelaku pasar dan konsumen lebih memilih bekisar dari Kangean dari pada Bali. Menurut mereka kualitas Bekisar dari Kangean lebih unggul segalanya dari pada bekisar hasil penangkaran dari Bali.

Tetapi kemudian hukum pasar tetap berlaku. Bekisar dari Bali secara perlahan dan pasti mulai masuk pasaran, mengisi kekosongan antara supply and demand yang tidak balance. Dalam situasi normal Bekisar dari Bali kurang diminati pasar, baik oleh pedagang maupun konsumen. Pada awalnya banyak bekisar dari Bali dikatakan bekisar berasal dari Kangean. Bagi orang yang awam bisa jadi percaya, tetapi bagi yang paham langsung akan tahu perbedaannya dari ciri-ciri fisik yang nampak.

Tragisnya lagi, saat booming bekisar sampai pada puncaknya para master/penggiat bekisar ini banyak yang mengalami kecelakaan laut saat berlayar naik perahu pulang bersama hasil tangkapan ayam alasnya.  Jalan pintas melalui laut ini sengaja mereka tempuh, sebab jika melalui perjalanan darat tak mungkin lepas dari pengamatan petugas dan urusan hukum. Semua musnah terkubur didalam lautan. Mata rantai kemudian terputus. Tak ada lagi produksi bekisar dari Kangean. Kalaupun toh ada, paling hanya ada satu dua orang yang keberadaanya tak lagi diperhitungkan. Yang ada kemudian adalah bekisar dari Bali yang menguasai pasaran hingga saat ini.

Melon Tembang Kangean

        Setelah sekian lama sepertinya Pulau Kangean kehilangan identitas bersamaan dengan terhentinya regenerasi penggiat Bekisar yang mengangkat namanya di kancah Nasional bahkan Internasional dengan sebutan Pulau Bekisar. Kini kembali namanya berkibar dengan pendatang baru yang sama sekali berbeda yaitu Melon Tembang Kangean.

Asal Mula Budidaya Melon.

      Secara geografis sepertinya  tak ada yang istimewa Desa Buddi ini dengan desa lain disekitarnya. Terletak dipesisir pantai barat daya pulau Kangean diapit oleh Desa Kolo-Kolo dan Desa Gelaman.  Desa Buddi terdiri dari lima dusun yaitu Dusun Tembang,  Dusun Sagubing, Dusun Batu Tale, Dusun Pajenassem, Dusun Tanah Mulbul. 

     Ketika saya berkunjung hari Kamis kemarin tanggal 8 Oktober 2020 malah hampir kembali ditengah perjalanan. Perjalanan kurang lebih 15 km harus ditempuh dalam waktu 1 jam dengan sepeda motor. Maklum 10 km terahir harus melalui jalan tanah bergelombang dan berdebu. Jika di musim penghujan sepertinya harus melawan kubangan air dan lumpur. Hanya 3 km pertama dari pusat Kota Kecamatan Arjasa yang lumayan untuk dilalui, jalan aspal yang sudah mulai rusak, 2 km sesudahnya jalan makadam.

      Baru setelah kira-kira kurang lebih 1 km diluar dusun Tembang desa Buddi, saya menemukan bangunan terbuka ukuran 3x3, orang Kangean biasa menyebut dengan 'berong' (warung) tempat beristirahat dan makan setelah bekerja sekaligus sebagai pos ronda ketika malam telah tiba. Saya mencoba mendekat dan berhenti tak jauh dari 'warung'. Kebetulan jam  sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB waktu istirahat siang. Ada 2 orang laki-laki sedang istirahat, 1 perempuan sedang bekerja memilah milon yang baru dipanennya dan 2 anak kecil usia SD sepertinya kakak beradik sedang bermain dan 1 lagi perempuan setengah baya masih sedang bekerja diladang.

Salah satu dari mereka bernama pak Mat Jasin. Mereka adalah satu keluarga. Dialah yang banyak bercerita tentang perkembangan dan perjalanan melon dari waktu kewaktu di Dusun Tembang. Mereka sudah 2 bulan terahir ini bekerja siang malam disitu. Siang merawat melon, malam menjaga agar kebun melonnya tidak diganggu oleh hewan seperti sapi atau kerbau. Kemungkinan itu sebenarnya sudah diantisipasi dengan membuat pagar dari kayu hidup yang diapit dengan bambu. Tetapi itu semua tidak akan cukup kuat untuk menghalau kawanan sapi dan kerbau yang memang sengaja dilepas oleh pemiliknya.

Pemeliharaan terberat bagi mereka saat usia melon mulai berbuah. Mereka seharian memeriksa satu persatu buah melon dan membalik posisi buah dari permukaan tanah. Jika itu tidak dilakukan melon bisa menjadi rusak. Permukaan melon menjadi jelek, bahkan bisa membusuk dan menjadi makanan semut. Begitu seterusnya sampai buah melon besar dan tua.

Ketika masuk masa panen tiba, pemeliharan dan penjagaan semakin intens. Penjagaan tidak saja dilakukan karena adanya kemungkinan gangguan hewan, tetapi lebih pada kemungkinan gangguan pencurian. Siang hari mereka panen melon yang sudah tua, atau masak. Membolak balik melon yang masih muda dan mulai melayani pembeli yang mulai berdatangan.

Saatnya bagi mereka berbahagia, pundi-pundi rupiah sudah didepan mata. Harga melon perkilo ditempat terbilang mahal antara 9.000-10.000 tergantung kualitas buah. Panas terik mentari yang membakar kulit mereka sepanjang hari bukanlah halangan untuk bekerja. Dan memang melon hanya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik saat musim kemarau tiba. Yang justru ditakutkan adalah hujan yang tiba-tiba turun, lebih-lebih saat usia panen. Jika itu terjadi pohon melon yang memang hidupnya menjalar ditanah akan mati dan buah melon akan menjadi rusak/busuk.

Menurut pak Mat Jasin, masa panen ini paling hanya tinggal satu minggu lagi. Ini adalah buah terahir yang bisa dipanen. Buah menjadi sedikit kecil dan kualitasnya juga sudah menurun karena pohon melon sudah banyak yang mulai mengering. Buah tak lagi besar-besar ketika diawal panen yang bisa mencapai 4 kg lebih. Prediksi masa panen ini ternyata tepat. Dua hari kemudian tepat pada hari Sabtu pagi, tanggal 10 Oktober 2020 hujan lebat mengguyur pulau Kangean. Habis sudah masa panen melon Tembang Kangean tahun 2020.

Perkembangan Pasar Melon Dari Tahun Ketahun.

Melon Tembang Kangean mulai dikenal oleh petani sekitar tahun 2000. Awalnya hanyalah coba-coba, petani memanfaatkan lahan kosong setelah panen padi selesai. Mereka biasanya hanya menanam buah semangka dan tanaman lain seperti kacang hijau, ketela pohon dan ubi-ubian dll yang biasa ditanam pada musim kemarau.

Dari hasil percobaan itu ternyata hasilnya manis dan empuk, berbeda ketika ditanam bibit yang sama ditempat yang lain hasilnya biasa sebagaimana yang ada di pasaran. Berangkat dari hasil yang berbeda ini kemudian mulai didengar oleh petani lain. Mereka juga mencoba menanam.

Pada tahun 2004 dicoba menanam dilahan yang lebih luas. Hasilnya ternyata sama, manis dan empuk. Hasil panen dikonsumsi sendiri dikalangan keluarga, selebihnya jika ada yang berminat membeli, mereka jual.

Secara perlahan melon asal Dusun Tembang ini mulai dikenal dari mulut kemulut, termasuk petani lain yang punya lahan meniru untuk menanam. Hasilnya menggembirakan. Pasar menyambutnya dengan positif. Pedagang mulai melirik komoditas baru ini. Konsumen lama ketagihan untuk segera menikmati ketika musim panen tiba. Konsumen baru penasaran ingin merasakan manis dan nikmatnya melon Tembang yang baru ia dengar.

Pada kisaran tahun 2015 pasar mulai merambah keluar dari Kangean masuk ke Kota Sumenep. Pada tahun 2017 mulai viral di medsos dan pasar sudah mulai merambah kota-kota lain diluar Sumenep. Puncaknya di tahun 2020 ini, berita Melon Tembang Kangean sudah masuk Senayan menjadi bahasan agenda sidang di DPR RI untuk bisa dibudidayakan menjadi komoditas andalan yang tidak hanya bisa dinikmati saat di penghujung musim kemarau saja, tetapi dapat dinikmati sepanjang musim dengan mengembangkan tehnologi tepat guna agar petani bisa berproduksi sepanjang tahun.

Apa yang akan terjadi nanti ditahun 2021. Mari kita sama-sama melihat dan menunggu sambil berharap ada upaya-upaya riel dari semua pihak khususnya Pemerintah untuk meningkatkan produktivitas Melon Tembang Kangean dengan memberdayakan petani setempat dengan ilmu dan tehnologi serta modal usaha yang memang mereka butuhkan.

Bukan tidak mungkin ditempat lain selain dari Dusun Tembang ada lokasi lain yang punya potensi yang sama atau bahkan mungkin lebih yang bisa dikembangkan. Campur tangan dari Pemerintah maupun swasta khususnya para ahli dari praktisi maupun akademisi sangat dibutuhkan agar budidaya melon ini berkembang terus melintas batas cakrawala Nusantara menjadi komoditas ekspor yang bisa dibanggakan. Secara perlahan dan pasti, bukan tidak mungkin pula image Pulau Kangean yang identik dengan Pulau Bekisar akan berubah dengan Pulau Melon Kangean atau apalah namanya. Perubahan adalah keniscayaan. Wait and See! Semoga....Jayalah Desaku....Jayalah Pulauku... Jayalah Negeriku. Aamiin....!
Nur Hakim
Nur Hakim Fokus adalah salah satu kiat untuk sukses

2 comments for "Melon VS Ayam Bekisar, Melintas Batas Cakrawala. "

  1. Jika aku tak mengataka keeereeeennnn, ohh, terlalu
    Ini sangat keren

    ReplyDelete
  2. Ooo...baru sempat buka-buka kolom komentar. Makasih bos Heroecokro...atas kunjungan dan dukungannya.

    ReplyDelete