Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

HAUL PANGERAN JUDONEGORO & ROKAT DESA KEBUNAGUNG


Haul merupakan tradisi peringatan kematian seseorang yang diadakan setahun sekali dengan tujuan mendoakan ahli kubur agar semua ibadah yang dilakukannya diterima Allah sekaligus mengenang keteladanan semasa hidup dari tokoh yang diperingati tersebut.Wikepedia

Tradisi haul awalnya diadakan untuk memperingati, mendoakan dan mengenang keteladanan seorang tokoh agama ( Habaib, Kiai/Ulama) yang berjasa dalam syiar Agama Islam. Acara diadakan sekali dalam setahun dimakam tokoh spiritual itu dengan mengundang khalayak dipimpin oleh keturunan/penerusnya. Dalam perkembangannya tradisi haul tidak hanya dilakukan untuk memperingati wafatnya para tokoh spiritual saja tetapi kemudian tradisi ini diadakan untuk memperingati wafatnya orang tua, kakek nenek atau sesepuh dalam lingkup keluarga.

Rokat dalam bahasa Madura artinya ruwatan untuk keselamatan bersama.(di Jawa dikenal dengan tradisiruwatan). Rokat adalah tradisi yang sudah dikenal sejak jaman nenek moyang kita dimasa silam. Tradisi ini dilaksanakan bisa untuk kepentingan individu dalam lingkungan keluarga atau kolektif untuk kepentingan bersama dengan maksud untuk menghindari mara bahaya atau hal-hal buruk yang mungkin terjadi dimasa depan. Dalam perkembangannya tradisi ini sudah mulai banyak ditinggalkan khususnya rokat secara individu. Rokat secara kolektif untuk kepentingan masyarakat seperti rokat desa, rokat tase' (petik laut) masih dapat dijumpai dibeberapa tempat, bahkan dijadikan ajang promosi dan pariwisata.

Untuk mendoakan sekaligus mengenang keteladanan Pangeran Judonegoro semasa hidupnya , Kepala Desa Kebunagung yang secara genealogis masih sedarah, mengadakan haul Pangeran Judonegoro dan Rokat Desa Kebunagung yang dilaksanakan secara bersamaan di Kampung Judonegoro (Asta Pangeran Judonegoro) Desa Kebunagung Kecamatan Kota Sumenep pada hari Kamis, Tanggal 24 September 2020 pukul 19.00 WIB.

Pangeran Judonegoro adalah seorang Adipati Sumenep di abad ke 17 kurang lebih 350 tahun yang lalu. Seorang tokoh/pemimpin yang pantas dikenang dan diteladani. Seorang Pangeran yang hidupnya sejak kecil sudah teraniaya dan terbuang di negeri orang akibat perang, kemudian dapat kembali mengangkat harkat dan martabat dirinya dan keluarga, menjadi pemimpin yang disegani. Gelar Judonegoro bukanlah tanpa makna. Dia adalah seorang pemimpin yang tidak peduli akan dirinya. Hidupnya hanya untuk negara, bangsa dan rakyatnya. Dia dikenal sebagai sosok yang santun, arif dan bijaksana. Sehingga jika ada orang yang tidak mengenal sopan santun dan tatakrama, dikatakan ''tidak tahu judonegoro'.

Baca: Kampung Judonegoro dan Kisah Pilu Seorang Pangeran.

Acara haul dan rokat dihadiri oleh Muspika Kecamatan Kota Sumenep, tokoh agama/alim ulama, tokoh masyarakat dan masyarakat Desa Kebunagung dan sekitarnya. Acara diawali dengan pembacaan Yasin, Tahlil. dan Shalawat Nabi. Kemudian sambutan tunggal oleh Kepala Desa Kebunagung, Bpk. Bustanul Affa yang dilanjut dengan pemberian santunan untuk anak-anak yatim dan kaum dhuafa Acara kemudian dilanjutkan dengan ceramah agama dan ditutup dengan doa. Selamat untuk Desa Kebunagung.

Lihat videonya disini

Nur Hakim
Nur Hakim Fokus adalah salah satu kiat untuk sukses

Post a Comment for "HAUL PANGERAN JUDONEGORO & ROKAT DESA KEBUNAGUNG"